Skip to main content

Peran Istri

Beberapa waktu lalu saya menemukan thread di twitter mengenai, "'Ngga mau nikah karna males jadi pembantu buat suami dan anak". Membacanya membuat mata saya terusik. Saya tidak suka dengan pernyataan orang tersebut. Serius ini saya ada lho, buktinya.

Kata P E M B A N T U
Saya kalau nonton film Hollywood, sering banget nemuin sosok suami malah sibuk nyiapin sarapan buat anak dan istrinya. Turut andil pula dalam pekerjaan rumah tangga.
Tapi yaa, itu di Hollywood..
Ini di Indonesia. Adat yang turun menurun, menjadikan peran istri dalam rumah tangga terlihat seperti pembantu. Karna memang pada jaman sebelum Kartini yang disebut sebagai pahlawan emansipasi wanita, sosok wanita banyak 'kurang beruntung' atau seakan terjajah sebagai wanita dalam kehidupannya. Saya tidak perlu sebutkan rinciannya. Dan adat sejak nenek moyang hingga sekarang masih melekat di tanah air ini. Menjadikan sosok istri harus bisa menguasai pekerjaan rumah. Yaa, terlihat seperti pembantu.

Padahal di dalam Islam, wanita itu sangat dimuliakan keberadaannya. Harus menutup aurat sebagai simbol ia adalah muslimah, namun selain itu juga sebagai penjagaan dirinya dari hal-hal buruk. Tempat wanita itu di dalam rumah. Dan jihadnya wanita muslimah tidak seperti laki-laki yang berada di medan perang. Walaupun perempuan bisa berjihad saat perang, namun ada waktunya.
Kemudian, apa jihadnya perempuan di dalam islam?
1. Mengandung
2. Melahirkan
3. Menyusui anaknya
Bila seorang muslimah meninggal dalam keadaan salah satu dari yang saya sebutkan diatas, maka tentu ia telah meninggal dalam keadaan berjihad, bebas dari hisab akhirat.

Sebenarnya di dalam ilmu syar'i, pekerjaan rumah tangga bukanlah kewajiban untuk istri. Karna kewajiban istri hanya ada 2.
1. Melayani suami
2. Mendidik anak

Perihal 2 kewajiban diatas ini sebenarnya ada 4 mazhab, tapi saya akan ambilkan satu yang paling utama. 
  • Mazhab As-Syafi’i:

Di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah, ada disebutkan:
"Tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya, karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban." 

Adapun hadist yang menyebutkan tentang kebiasaan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam di dalam rumah tangga. 
"Dari Al Aswad, ia bertanya pada Aisyah, 'Apa yang Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?' Aisyah menjawab, 'Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu sholat, beliau berdiri dan segera menuju sholat'." HR. Bukhari

Bisa dicari tugas seorang istri di dalam rumah tangga dari sudut panang ilmu syar'i, pasti yang ditemukan hanya 2 hal diatas yang telah saya sebutkan.
Tapi ini tidak boleh menjadikan alasan seorang istri jadi pemalas, ya. Saya sangat menentang hal ini. Karna bagaimanapun juga, istri tetap harus menjaga, merawat suami dan anak-anaknya, beserta rumahnya. Karna peran istri itu adalah pondasi rumah. Ia yang mengatur semua persoalan rumah tangganya, termasuk keuangan.

Tentu kita semua tahu bahwa seorang pembantu itu digaji dengan uang. Dan mereka memiliki jam stop bekerja.
Sedangkan seorang istri yang melayani suaminya, mendidik anak-anaknya, dan turut andil dalam pekerjaan rumahnya, maka gajinya berlipat-lipat pahala yang insyaa Allah mengantarkannya ke surga. Bukankah itu sudah cukup adil dengan ganjaran atas kelelahan seorang istri yang 25 jam tak ada libur dalam mengurus keluarganya? Surga, siapa yang tidak mengidamkannya?
Kalau masih tidak mau melakukan pekerjaan rumah, solusinya maka bayarlah art. 

Peran istri itu, sangat mulia dalam Islam. Istri dipinta untuk menjaga kehormatannya tatkala sedang di tinggal oleh suaminya (bekerja), berpuasa di bulan Ramadhan, menutup aurat, dan patuh kepada suami, maka dapat masuk ke dalam surga melalui pintu manapun yang diinginkan. Bukankah ini adalah salah satu bentuk betapa istimewanya seorang istri? 

Hari ini, saya sedikit dibuat gelisah dengan perkataan seorang perempuan yang "pernah menikah", dan mengatakan "Ketika suami mengatakan, 'kamu harus patuh!'" dan perempuan tersebut berkata atas dirinya "Saya perempuan, bukan Golden Retriever". 

Ada yang setuju dengan pernyataan di atas? 
Saya menemukan, banyaaaak.. 
Subhanallah.. 

Begini, kalau ada istri yang belum menutup aurat, kemudian suami memerintahkan istrinya untuk menutup aurat, istri tidak boleh mengatakan "Nanti mas, aku belum siap!" 
Suami meminta agar istrinya memakai pakaian syar'i, "Nanti mas, aku belum pantes pake gamis. Kayak ibu-ibu!" 
Hhhmm.. Back to dalil! 

“Dan mereka (para wanita) memiliki hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang pantas. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” 
[Al-Baqarah : 228]

Seorang istri wajib mematuhi apa-apa yang diperintahkan oleh suami, dalam hal beribadah.
Seorang istri boleh menolak perintah suami yang bila mana itu tidak adanya unsur syar'i. 
Istri pun, berhak untuk meminta cerai bila ada unsur syar'i. Misal, didzolimi dalam hal nafkah, atau KDRT.
Tetapi istri tidak bisa meminta cerai hanya karna suami banyak menuntut. Ingaaat, dalam hal ibadah saja yaa!
Namun, perkara cerai yang diajukan oleh istri pun, ada banyak hukumnya di dalam Islam. 

Nah ini, banyak perempuan yang setuju dengan kata "seseorang" yang pernah menikah tersebut. Jadinya, merasa bahwa benar istri itu merasa banyak dirugikan.
Sudah harus mengerjakan pekerjaan rumah, urus suami dan anak, tapi mendapat nafkah yang sedikit, dll. Jadi merasa mereka mendapat perlakuan tidak adil.

Saya penasaran, berapa banyak wanita di jaman sekarang yang tahu tentang, mengapa wanita lebih banyak di dalam neraka? 

“ … dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya: “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Karna kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) nescaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’”
(Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari)

Kiranya ini menjadi hal jelas mengapa saya sangat terusik dengan kata-kata, "Ketika suami mengatakan kamu harus patuh!"
Dan istri merasa, itu adalah hal yang tidak membuatnya bebas. Apa yang membuatmu merasa tidak bebas, sedangkan Allah azza wa jalla telah menetapkan perintah-Nya dalam urusan rumah tangga? Tidak bebas dengan dengan peraturan Allah? Kalian siapaaaa?! 
Tolong ubah mindset seperti itu! Islam sudah mengajarkan sangat detail kehidupan di dunia ini.

Pernikahan itu bukan hal sepele. Bahkan dikatakan bahwa pahala yang paling panjang itu, ada dalam pernikahan. Maka sepatutnya seorang perempuan banyak belajar tentang ilmu syar'i dalam berumah tangga. Karna akan fatal bila melakukan suatu ibadah tanpa didasari ilmu.

Saya bukannya tidak membela peran istri yang merasa mendapat perlakuan tidak adil dari suami, ya.. Buat saya, sudah cukup dengan apa yang Allah katakan dan perintahkan.
Suami punya tugas dan kewajiban untuk membahagiakan istri dan anak-anak mereka. Istri punya tugas untuk mengabdi kepada suami, dan menjadi madrasah terbaik untuk anak-anaknya.
Semua adil menurut saya. Hanya saja, ada tempat-tempatnya.

Untuk seorang istri, janganlah lagi mengatakan, "Kamu tau hasilnya aja. 'nggak tau gimana aku capek ngurusin rumah dan anak!" 
Tolong laaah, suami anda seharian kerja pun, otak dan tububnya bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang baik untuk keluarganya. 
Dan untuk seorang suami, turut andil laah membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti nyapu ngepel, nyuci gosok, dan masak. Hahahaa *becanda.
Mau serius juga tak masalah. Karna memang itulah pekerjaan suami #ups

Saya pernah lihat kajian 2 ustadz favorite saya. Keduanya membahas perihal rumah tangga. 
1. Wanita itu diciptakan dengan hati yang lembut. Maka ia ditempatkan di dalam rumah. Mendidik anak-anaknya, mengatur keuangan, melayani suami, karna wanita itu memiliki kesabaran yang tanpa batas.
2. Suami itu diciptakan untuk kuat. Maka ia ditugaskan bekerja di luar rumah. 

Terakhir yang ingin saya bahas. 
Teruntuk kedua pasangan, jangan pernah menceritakan pasangannya (suami/istri) kepada rekan sebaya, kepada yang belum menikah, apalagi kepada tetangga!
Kalau ada masalah di dalam rumah tangga, cari orang yang berilmu, atau orang yang sudah memiliki pengalaman menikah puluhan tahun.
Karna akan mendapat nasihat yang matang.
Lain lagi cerita ke rekan yang sebaya atau yang belum nikah, untuk apa? Mencari pembelaan? Bukankah yang didapat hanyalah membanding-bandingkan pasangannya dengan orang lain? Bisa menyelesaikan masalah? Hanya ego yang didapat.

Suami dan istri layaknya pakaian. Saling menutupi aurat, saling memperindah, dan saling menyempurnakan. Tidak ada yang lebih baik di dalam pernikahan selain semua yang dilakukan sudah sesuai dengan syariat islam. 

Maka itu perempuan tidak perlu takut menjadi pembantu, bila yang kau layani adalah pengantarmu ke dalam surga. Dan patuhilah suamimu dalam urusan ibadahmu, seberapapun nafkah yang ia berikan. Hidari kufur, perbanyak bersyukur.

Jadikanlah rumah tanggamu sebagai surga yang kau rindukan.

Dari saudarimu, Asiyah.

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Cinta Dalam Diam

Jemariku meraba ratusan buku yang berjejer pada raknya. Hatiku gundah, kali ini, ingin membaca kisah seperti apa? Sesuatu yang menyemangati, atau hal-hal yang terasa pilu di hati? Langkah ku melewati lebih dari 4 rak buku yang berdiri kokoh di dalam toko. Mataku melirik pada sebuah judul. Pada satu-satunya judul yang dapat menarik perhatianku. Ku baca perlahan prolog yang berada di sampul belakang, ku dalami setiap kalimat, dan ku pahami nyawa yang tertulis dalam cerita tersebut. Aku tertegun. "Ya Allah, apakah kisah ini sama-dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini padaku?" batinku berbisik. Aku terdiam beberapa menit dalam argumen dengan hatiku, apakah ada yang bisa aku petik dari kisah ini? Entah... Siapa yang akan tahu bagus atau tidaknya kisah ini? Dan mana bisa diketahui seberapa banyak penggalan cerita ini yang dapat dipetik, bila belum terjamah untuk membacanya? Lama aku tertegun dalam diam sambil menatap lekat buku ini. "A, apakah k...

Aku Dan Pilu

Sudah hampir satu bulan ini hatiku dirundung pilu dan gelisah. Banyak sekali hal yang ku pikirkan. Dan kerinduan yang membendung besar. Dimulai dari kemo mamah yang ke empat ditanggal 12 Septermber 2018, setelah masa kemo beberapa hari, mamah lebih sering terlihat murung. Beliau bukan type orang yang mudah menceritakan apa yang dirasakannya, jadi aku tak tahu apa yang terjadi. Jangan tanyakan kenapa aku tidak bertanya saja? Sudah. Jawab beliau “Nggak’ apa-apa” . Sesingkat itu memang wanita untuk menjawab pertanyaan. Murungnya mamah bukan dikurun waktu yang sebentar, namun beberapa minggu bahkan menjelang kemo nya yang ke lima. Berulang kali ku ingatkan, untuk menjaga kesehatannya agar jangan sampai kejadian sebelum kemo ke empat, terulang lagi. Hari itu, selasa 10 Septermber 2018, aku mendaftarkan kemo mamah yang ke empat, juga meminta jadwal kemo yang ke lima. Hancur hati ini manakala dokter mengatakan, “Leukosit ibunya rendah, harus disuntik obat. Tapi persediaan disini seda...

Kartini

Selamat Hari Kartini untuk perempuan Indonesia. Semoga, semakin bertambah perempuan yang dapat mengharumkan Agama, Negara, dan Keluarga. Di zaman dahulu, hampir seluruh perempuan menjadi "paksaan" dalam bekerja, maupun untuk lelaki. Namun kini berbalik. Kini sudah banyak perempuan yang sukses dalam bidang pendidikan, dan usaha. Sudah tak terhitung, kini perempuan lebih berhasil. Ini peningkatan. Namun, tak juga menurun tingkat perempuan yang menjual kehormatannya, demi keberhasilan hidup mewah. Lokalisasi tiap daerah masih banyak. Sebagai perempuan, baiknya menerapkan seperti yang telah tercipta pada dirinya: Mulia. Perempuan itu, cenderung dengan Cantik dan Bersih. Maka cantikanlah hati, dan bersihkanlah iman. Agar dapat memberikan energi positif. Terutama dalam lingkungan, perempuan sangat berpengaruh. Karna perempuan cenderung dengan bersih. Untuk perempuan, mari bersihkan iman dengan juga membersihkan lingkungan. Ka...