Jemariku meraba ratusan buku yang berjejer pada raknya. Hatiku gundah, kali ini, ingin membaca kisah seperti apa? Sesuatu yang menyemangati, atau hal-hal yang terasa pilu di hati?
Langkah ku melewati lebih dari 4 rak buku yang berdiri kokoh di dalam toko. Mataku melirik pada sebuah judul. Pada satu-satunya judul yang dapat menarik perhatianku.
Ku baca perlahan prolog yang berada di sampul belakang, ku dalami setiap kalimat, dan ku pahami nyawa yang tertulis dalam cerita tersebut. Aku tertegun.
"Ya Allah, apakah kisah ini sama-dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini padaku?" batinku berbisik. Aku terdiam beberapa menit dalam argumen dengan hatiku, apakah ada yang bisa aku petik dari kisah ini?
Entah...
Siapa yang akan tahu bagus atau tidaknya kisah ini? Dan mana bisa diketahui seberapa banyak penggalan cerita ini yang dapat dipetik, bila belum terjamah untuk membacanya?
Lama aku tertegun dalam diam sambil menatap lekat buku ini. "A, apakah kisah ini sama dengan kisahku, yang menyukaimu beberapa tahun ini dalam diam?"
Ku yakinkan hati ini untuk membawanya pulang. Untuk menyelidiki diriku sendiri, apakah aku dapat merubah perasaan ini, atau tidak?
____________________________________________
Sedari awal aku mengira novel ini seperti kisah anak remaja yang sedang memendam perasaannya bertahun-tahun pada seseorang yang selalu disebutkan namanya di setiap sepertiga malam, ternyataa...
Novel ini banyak sekali mengajarkan tentang ilmu aqidah dan akhlak dalam pernikahan.
Aku terenyak. Ternyata novel ini berkisahkan sebuah hubungan yang rumit dalam rumah tangga. Dan hari ini, aku tidak akan membahas seperti apa detail ceritanya, namun seperti apa makna yang telah ku petik dari kisah sang penulis.
Karna novel ini berkisahkan tentang rumah tangga, sang penulis memberikan banyak sekali pemahaman terhadap agama dalam berumah tangga. Seperti, bagaimana cinta yang seharusnya dan semestinya diberikan pada yang halal. Bagaimana Allah sangat mencintai hamba-Nya. Cinta terhadap zat pemilik cinta, dan cinta pada makhluk karena mencintai-Nya.
Dalam novel ini juga ada pembelajaran akhlak dari kewajiban seorang istri kepada suami, pun juga sebaliknya. Bagaimana istri/suami sedang marah, apa yang harus dilakukan? Bagaimana cara selalu menyertakan Allah dalam mahligai cinta dua insan. Dan bagaimana agar lisan tak pernah malas memuji dan berucap cinta pada pasangan, karena Allah.
Yang paling ngena dan tak bisa di kelak adalah, manakala istri tidak boleh tidur dalam keadaan marah, atau suami dalam keadaan marah. Ini ada haditsnya.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى
“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)
Kalau soal ini, nantinya saya pun angkat tangan, hahahaa.. Seperti dikasih dua pilihan, seorang istri tertidur tanpa meminta maaf atas kesalahan istri/suami, kemudian Allah murka. Atau seorang istri menghilangkan segala ke egoisannya demi ridha Allah, dengan meminta maaf pada suami. Pesan singkatnya adalah, jangan pernah membiakan emosi atau amarah, menginap dalam rumah tangga.
Memang pasti sulit.. Karna hakikatnya perempuan itu, boros perasaan HAHAHAHAHA
Tapi mau bagimana lagi, bukankah cinta pada Allah itu, berarti juga mencintai apa yang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ajarkan??
Inti dari novel ini memberitahu, mengingatkan kembali, bagaimana istri taat pada Allah dalam mengabdi pada suami. Dan bagi suami untuk taat pada Allah dalam membahagiakan istri.
Novel ini juga memberitahu, kalau ingin Taat, yaa serius taat. Tidak boleh baper atau mengutamakan perasaan sendiri. Karna, apa yang Allah dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ajarkan, maka... Patuhi.
Kecuali tidak sanggup, jangan pernah baca novel ini. Karna pasti akan merasa, "Iiihh, ko ga adil siii?". Harus kuat perasaan dan mindsetnya.
Dari novel ini, ada satu hal yang membuat wajahku tersipu malu. Dan aku ingin sekali, bila Allah berikan aku kesempatan menjadi seorang istri, aku ingin meminta pada suamiku untuk sering membacakan doa ini:
Disyariatkan dan disunnahkan bagi sang suami ketika mendatangi istrinya untuk mengusap ubun-ubun sang istri seraya berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
اَللَّهُمَّ إِنِي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan (diri)-nya dan kebaikan (tabiat) yang Engkau ciptakan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan (diri)-nya dan keburukan (tabiat) yang Engkau ciptakan padanya.”
Pernikahan itu, seperti sebuah kapal. Suami adalah nahkoda. Dan ombak adalah hari-hari yang harus di lalui. Sebesar apapun ombak, nahkoda harus siap dan tahu bagaimana caranya menyeimbangkan dengan ombak tersebut. Agar kapal, tidak sampai tenggelam.
Bila dalam Islam, kewajiban istri adalah mengabdi pada suami, maka dalam kewajiban suami adalah, memuliakan istri. Harus yakin, bahwa Allah lah pemilik apa yang kita genggam. Jadi, apapun yang ada di dunia ini, termasuk hati, ada Allah yang mengatur semuanya dengan baik. Karna Allah tidak akan pernah dzalim. Maka begitupun juga dalam pernikahan, sertakanlah selalu Allah dalam setiap pengambil keputusan, dan tujuan. Karna keluarga yang penuh dengan cinta, adalah keluarga yang lebih dulu mencintai Allah daripada yang lain.

Comments
Post a Comment