Skip to main content

P e r n i k a h a n

Bismillah..

Baru terasa ketika ada yang mengatakan "Tinggal dua bulan lagi nih"
Eh, memangnya ada apa? Ya. 2018 sisa dua bulan lagi menuju 2019, ada November dan Desember. Pemikiran mengenai kehidupan yang baru, akhirnya terpikirkan juga.. Wah, sudah seharusnya kah aku membuka hati?

Sebenarnya sudah beberapa kali aku membicarakan perihal "Pernikahan Ideal". Hihihi, boleh yaa sebagai wanita normal ingin memiliki rumah tangga, punya gambaran seperti apa konsep pernikahannya kelak.
Dan, sebenernya lagi... Aku bukan type yang ingin punya konsep pernikahan layaknya wanita kebanyakan. Maksudnya adalah, kalau beberapa wanita yang sering aku temui, yaa, mereka punya gambaran yang terlihat -tidak begitu mewah, tapi lumayanlaah dikategorikan mewah. Hahaha...

Sejak dulu, pengen banget konsep nikah itu yang 'nggak ada ribet. Jadi, sejak dulu pengennya 'nggak ada namanya resepsi pernikahan. Kalaupun ada, maunya sejak pelaksanaan Ijab Qobul sampai seleseainya resepsi, setengah hari aja.
Karna gini, Alhamdulillah aku masih punya kakek dan nenek, juga ibu. Yang aku pikirkan adalah, kalau menikah nanti dengan konsep umumnya orang sampai satu harian, kasihanlah keluargaku, terutama ibuku, dan juga orangtua suamiku. Walaupun mereka 'nggak selalu stay, bisa saja. Tapi ngebayanginnya, 'nggak cuma mereka yang capek, wah aku pun pasti 'nggak akan sanggup sih, kalau seharian manteng dipelaminan. Hahahaha..
Jadilah ku putuskan, setengah hari saja. Itupun, kalau memang ada resepsi. Tapi sebenernya lagi nih, aku 'nggak mau ada resepsi saat pernikahan nanti. Karna "Pernikahan Ideal" yang aku mau itu adalah, hanya Ijab Qobul, setelah itu berkumpul dengan keluarga besar. Yang di undang pun, hanya keluarga besar dan kerabat yang sudah dekat banget layaknya keluarga. Satu lagi, inginku nanti saat pernikahan kelak, bisa mengundang beberapa anak yatim piatu, untuk makan bersama.. Yaa, intinya sih, pengen bisa berbagi kebahagiaan juga dengan mereka.

Itu untuk gambaran hari pernikahannya, iinginnya cukup Ijab Qobul saja, 'nggak ada resepsi. Nah, untuk gambaran style pengantin, akupun juga sudah punya konsep sendiri. Semoga calon suamiku mau menerima calon istrinya yang kebangetan sederhana ini, hahaha..
Karna keseharian aku memakai gamis dan hijab yang panjang, aku mulai resah kalau lihat baju pengantin, ko' agak jauh dari diri aku ini. Akupun mulai searching beberapa baju pengantin syar'i. Ada beberapa yang menjadi pilihan. Tapi kembali aku merasa itu berlebihan. Akupun memutuskan untuk pakai gamis di hari pernikahanku, lalu hijabnya pastan yang panjang, kemudian dihias dengan tile yang dikaitkan dengan bando kecil. Ini agak susah sih, untuk dijelaskannya. Intinya, sesederhana itulah aku.
Pengennya juga sih, calon suamiku pakai kemeja dengan warna yang senada dengan gamis yang aku pakai, kemudian dibalut jas sederhana.

Kadang suka berpikir, ini aneh 'nggak sih, seleraku? Terlalu sesimple ini, atau memang konsep aku tuh 'nggak ada kreatifnya? *sama saja sih, puufftt..
Oh ya, aku pengen banget di hari pernikahanku itu, adalah hari Jum'at. Sepele sih.. Karna supaya besoknya sabtu bisa malam mingguan. HAHAHAHA Jujur lhoo, aku belum pernah merasakan malam mingguan. Jadi, pas udah nikah nanti, suamiku lah orang pertama yang malam mingguan denganku.. Hihihi...

Kenapa memilih konsep pernikahan 'nggak ada resepsi, dan style pengantin yang sederhana?
Karna yang terpenting adalah Sah nya pernikahan kami. Beberapa kalia aku melihat acara sakral ini begitu mudah dan cepat sekali prosesnya. Sampai aku pernah melongo sekali, karna 'nggak pernah sangka, ternyata pengucapan Ijab Qobul sesimple itu. Agak amazing buat aku, maaf yaa, terkesan norak. Hahaha... Diantara lainnya juga. aku ingin ada suasana hangat berkumpul bersama dengan kedua keluarga besar. Jadi lebih privasi banget suasananya.

Oke, sekian kilasan cerita singkat mengenai konsep pernikahan ideal ku. Semoga di next capture, aku bisa share hal menarik lainnya.

Wassalammu'alaikum..

Jum'at, 12 Oktober 2018 19.56PM

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Cinta Dalam Diam

Jemariku meraba ratusan buku yang berjejer pada raknya. Hatiku gundah, kali ini, ingin membaca kisah seperti apa? Sesuatu yang menyemangati, atau hal-hal yang terasa pilu di hati? Langkah ku melewati lebih dari 4 rak buku yang berdiri kokoh di dalam toko. Mataku melirik pada sebuah judul. Pada satu-satunya judul yang dapat menarik perhatianku. Ku baca perlahan prolog yang berada di sampul belakang, ku dalami setiap kalimat, dan ku pahami nyawa yang tertulis dalam cerita tersebut. Aku tertegun. "Ya Allah, apakah kisah ini sama-dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini padaku?" batinku berbisik. Aku terdiam beberapa menit dalam argumen dengan hatiku, apakah ada yang bisa aku petik dari kisah ini? Entah... Siapa yang akan tahu bagus atau tidaknya kisah ini? Dan mana bisa diketahui seberapa banyak penggalan cerita ini yang dapat dipetik, bila belum terjamah untuk membacanya? Lama aku tertegun dalam diam sambil menatap lekat buku ini. "A, apakah k...

Aku Dan Pilu

Sudah hampir satu bulan ini hatiku dirundung pilu dan gelisah. Banyak sekali hal yang ku pikirkan. Dan kerinduan yang membendung besar. Dimulai dari kemo mamah yang ke empat ditanggal 12 Septermber 2018, setelah masa kemo beberapa hari, mamah lebih sering terlihat murung. Beliau bukan type orang yang mudah menceritakan apa yang dirasakannya, jadi aku tak tahu apa yang terjadi. Jangan tanyakan kenapa aku tidak bertanya saja? Sudah. Jawab beliau “Nggak’ apa-apa” . Sesingkat itu memang wanita untuk menjawab pertanyaan. Murungnya mamah bukan dikurun waktu yang sebentar, namun beberapa minggu bahkan menjelang kemo nya yang ke lima. Berulang kali ku ingatkan, untuk menjaga kesehatannya agar jangan sampai kejadian sebelum kemo ke empat, terulang lagi. Hari itu, selasa 10 Septermber 2018, aku mendaftarkan kemo mamah yang ke empat, juga meminta jadwal kemo yang ke lima. Hancur hati ini manakala dokter mengatakan, “Leukosit ibunya rendah, harus disuntik obat. Tapi persediaan disini seda...

Kartini

Selamat Hari Kartini untuk perempuan Indonesia. Semoga, semakin bertambah perempuan yang dapat mengharumkan Agama, Negara, dan Keluarga. Di zaman dahulu, hampir seluruh perempuan menjadi "paksaan" dalam bekerja, maupun untuk lelaki. Namun kini berbalik. Kini sudah banyak perempuan yang sukses dalam bidang pendidikan, dan usaha. Sudah tak terhitung, kini perempuan lebih berhasil. Ini peningkatan. Namun, tak juga menurun tingkat perempuan yang menjual kehormatannya, demi keberhasilan hidup mewah. Lokalisasi tiap daerah masih banyak. Sebagai perempuan, baiknya menerapkan seperti yang telah tercipta pada dirinya: Mulia. Perempuan itu, cenderung dengan Cantik dan Bersih. Maka cantikanlah hati, dan bersihkanlah iman. Agar dapat memberikan energi positif. Terutama dalam lingkungan, perempuan sangat berpengaruh. Karna perempuan cenderung dengan bersih. Untuk perempuan, mari bersihkan iman dengan juga membersihkan lingkungan. Ka...