Apa yang terbesit dipikiran, saat melihat foto di atas?
Persahabatan?
Perasaan cinta yang timbul saat masa kanak-kanak?
Atau apa?
Saya kepingin banget berbagi pemikiran saya di blog ini, mengenai hubungan 'yang tidak pantas' dilakukan oleh anak di bawah umur.
Aslinya foto tersebut saya ambil dari google, hanya sebagai ilustrasi saja. Karna yang sebenarnya itu, saya barusan sekali melihat sebuah foto sepasang anak kecil yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sedang merayakan Anniversary hubungan mereka. Whaaat?!! (Agak 'nggak ikhlas taro foto mereka di blog saya.)
Awal lihat, shock! Geleng-geleng kepala, serasa tak yakin. Tapi yaa, inilah yang terjadi. Terjadinya hal seperti ini juga, sudah lama.. Sudah sejak jaman nenek moyang pun, ada. Dimana, anak yang baru menginjak usia belasan tahun sudah mengikat hubungan dengan lawan jenisnya dengan hubungan, 'pacaran'. Eurgh!
Di blog ini, saya ingin membagi pemikiran saya, kenapa anak - anak kecil, yang usia mereka masih di bawah umur, sudah berani menyatakan cinta, atau sudah berani berpacaran? Dan di sini, saya ingin membahasnya dari peranan orangtua dengan berbagai macam sisi, yang mana, memang ada banyak contoh yang bisa di kaitkan. Kenapa saya mengambil pembahasan dari segi orangtua?
Pertama..
Orangtua dalam pertembuhan anak.
Sebaik - baiknya peranan orangtua adalah, yang baik dalam memberikan 'ilmu' kepada anak-anaknya. Kenapa? Karna orangtua adalah sekolah pertama, guru pertama, bagi anak-anak dalam tumbuh kembang, dan belajar. Bila orangtua sudah salah dalam pengajaran, pengarahan, dan pengawasan, tak kecil kemungkinan pertumbuhan anak akan buruk. Tentu. Karna setiap anak itu akan mencontoh, dan orangtua adalah yang pertama kali mereka contoh.
Orangtua yang shalih, berilmu, cerdas, berwawasan luas, akan melahirkan generasi anak - anak yang ber-attitude baik, disiplin, cerdas, dan tumbuh menjadi anak yang berprestasi. Dan orangtua yang benar, adalah yang mengarahkan dan mengingatkan kepada anak, agar selalu menjaga kehormatan.
Kehormatan dirinya (anak), serta kehormatan ke dua nama orangtua.
Kehormatan dirinya (anak), serta kehormatan ke dua nama orangtua.
Orangtua yang baik, pasti akan membimbing anak - anak mereka tentang apa yang haq, dan apa saja yang bathil. Tidak mudah memang menjadi orangtua. Tapi bukankah semua orangtua menginginkan generasinya tumbuh lebih baik?
Sedangkan orangtua yang buruk akal, akhlak, dan akidahnya, akan melahirkan generasi yang buruk juga.
Setiap anak dalam tumbuh kembang akan selalu berbuat kesalahan. Itulah step by step perkembangan mereka. Peranan orangtua di sini sangatlah penting. Mengajarkan, membimbing, mengarahkan, dan memberikan tauladan yang baik. Jangan tiap anak berbuat kesalahan, kemudian dimarahi, dihukum, dikasari, dan lain-lain dengan tindakan yang tidak benar. Jangaan, Kasihan mental dan psikis mereka. Mereka berbuat salah, tentu karna mereka belum tahu apa akibat dari sebab. Belum tahu apa yang boleh dan tidak. Mereka baru saja belajar, baru saja menambah wawasan. Bimbing anak - anak dengan arahan yang benar.
Termasuk menyukai pada lawan jenis mereka. Beritahu bahwa antara laki - laki dan perempuan yang bukan sedarah, tidak baik bila terlalu dekat, ada jarak diantara keduanya. Kepada anak perempuan, peranan ayah harus benar - benar dekat. Kepada anak laki - laki, peranan ibulah yang lebih dominant. Walaupun tentu ke dua orangtua harus sama seimbang.
Apa sih, yang di lakukan pada anak - anak saat memiliki hubungan 'pacaran'? Hanya perasaan suka sama suka, perhatian, dan apa lagi? Saya rasa tidak lebih dari itu. Bukankah orangtua bisa melakukan lebih? Berikan cinta, kasih sayang, perhatian yang extra, kepada anak - anak. Supaya mereka merasa bahwa mereka sudah mendapatkan semuanya. Di sayang, diperhatikan, dimanja, selalu merasa senang. Ingatkan dan arahkan, bahwa ada masa untuk mereka bisa meluapkan perasaan terhadap lawan jenis, nanti. Ketika mereka sudah mampu dalam akidah, pemahaman, dan sudah sukses (misalnya).
Ke dua..
Orangtua dalam pengawasan media sosial dan media komunikasi.
Aaahh, dalam persoalan media sosial dan komunikasi ini, sudah banyak sekali membuat para orangtua tentu khawatir. Perkembangan teknologi bisa menjadi boomerang bagi pertumbuhan anak - anak, bila tidak di dukung oleh pengawasan yang baik. Saya akui, teknologi seperti handphone, komputer/laptop, perlu sekali untuk peningkatan kecerdasan atau kreatifitas otak anak. Tapi, tidak dengan lebih dari mencari wawasan dari teknologi tersebut. Misalnya, anak sudah diberikan kepercayaan untuk punya handphone, yaa, tidak dengan memiliki aplikasi yang tidak penting. Contoh, facebook, twitter, instagram, yang menurut saya untuk anak dalam tingkat sekolah dasar, belum perlu banget, laah.. Karna konten - konten remaja atau orang - orang dewasa, banyak sekali tersebar, dan bila kecolongan pengawasan sedikit saja, itu yang akan menyebabkan pengetahuan mereka yang belum waktunya.
Bolehlah bila ada aplikasi whatsapp dalam hpnya, karna bisa untuk berkomunikasi dengan ayahnya, saudara - saudaranya yang jauh, atau keluarganya yang dia dekat dengan mereka. Sebatas itu saja media sosial dan kumunikasi untuk anak - anak. Sisanya, ajarkan mereka bagaimana mencari ilmu tambahan di luar sekolah dalam media. Atau boleh juga, mereka diberikan 'waktu', kapan dan sampai kapan, mereka bisa menggunakan teknologi yang bisa menambah wawasan mereka.
Untuk media hiburan, seperti youtube, ini banyak sekali konten yang tidak bermanfaat. Tapi bukan berarti tidak ada sama sekali yang bermanfaat, yaa.
Seperti yang saya katakan, bahwa teknologi juga dapat menambah kreatifitas anak - anak, contohnya seperti kerajinan tangan membuat craft, cooking, learn english, dan masih banyak hal lain. Yang dimana, mereka juga bisa dapatkan pelajaran tersebut dari media hiburan. Tentu pengawasan orangtua yang paling utama. Selalu ada di samping anak - anak, setiap mereka memegang sebuah gadget.
Untuk media hiburan, seperti youtube, ini banyak sekali konten yang tidak bermanfaat. Tapi bukan berarti tidak ada sama sekali yang bermanfaat, yaa.
Seperti yang saya katakan, bahwa teknologi juga dapat menambah kreatifitas anak - anak, contohnya seperti kerajinan tangan membuat craft, cooking, learn english, dan masih banyak hal lain. Yang dimana, mereka juga bisa dapatkan pelajaran tersebut dari media hiburan. Tentu pengawasan orangtua yang paling utama. Selalu ada di samping anak - anak, setiap mereka memegang sebuah gadget.
Ke tiga..
Orangtua dalam pengawasan dan arahan dalam lingkungan..
Setiap orangtua sangat harus untuk mengenal teman - teman atau lingkungan tempat anak - anak bersosialisasi. Karna tidak bisa menjamin, bahwa semua orangtua sudah mendidik anak dengan akhlak yang benar dan pemahaman lingkungan yang pantas untuk sesusianya. Lingkungan adalah salah satu setelah peranan orangtua dalam perubahan wawasan, mental, juga sikap anak. Lalu, bagaimana bila anak bertemu atau memiliki teman yang 'nakal'? Biasanya anak main beberapa jam di luar rumah, atau pulang dari sekolah, akan pulang dengan watak yang baru, atau kebiasaan yang baru, yang bukan dari bimbingan oragtuanya. Pernah dengan anak tingkat sekolah dasar sudah bisa mengatakan, 'I Love You'? Naah, saat di rumahlah, mulai pembersihan karakter mereka yang sudah dilatih oleh orangtua, kembali diajarkan. Orangtua tidak boleh lelah dan tidak boleh bosan. Karna memang karakteristik anak - anak mudah sekali berubah - ubah, tergantung darimana, dan dari siapa, mereka mencontoh.
Ke empat..
Orangtua dalam memperkenalkan agama.
Saya menempatkan pembahasan 'agama' di point terakhir. Karna justru ini yang sangat penting. Dalam Islam, banyak sekali pembahasan dalam membimbing anak - anak menjadi sholeh dan sholeha. Pertama sekali dalam sesi bimbingan adalah, perkenalan tentang Allah, Rasulullah, tentang Iqra, alam semesta, hewan, tumbuhan, dan doa sehari-hari. Memperkenalkan mereka dengan pemahaman iman yang baik. Kemudian, pengajaran tentang akhlak mereka dalam menyapa, berbicara, bersikap, dan bertindak, kepada orangtua, nenek, kakek, saudara, kakak, adik, dan akhlak bersosial. Sudah sejak usia balita, anak harus mulai di ajarkan dalam berakhlak mulia.
Dalam usia anak - anak yang sedang menelaudani orangtua, berikan contoh yang sesuai dengan tampat, situasi, waktu, dan orang - orang di sekeliling. Termasuk pada lawan jenis yang tidak ada hubungan satu darah. Tanamkan sifat 'malu' dalam diri anak. Agar dengan 'malu' mereka dapat menjaga sikap, kehormatan, dan pandangan. Karna, Allah ta'ala, telah tanamkan hati dan perasaan pada setiap hamba-Nya. Tentu yang benar adalah, anak-anak menyayangi orangtuanya, menyayangi saudara kandungnya. Bukan menyayangi pacarnya. Seharusnya anak - anak perhatian dengan orangtuanya, perhatian dengan saudaranya, perhatian dengan orang yang berada dibawahnya, perhatian dengan hewan juga tumbuhan. Bukan perhatian dengan pacarnya!
Pasti pernah mendengar 'apa yang di tanam, maka kelak akan ada hasil yang di panen'. Maka, tanamilah aqidah, dan akhlak anak - anak dengan yang Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, ajarkan. Karna, bila orangtua sudah mendidik anak - anaknya sejak kecil dengan pemahaman agama, melatih keseharian mereka dengan akhlak agamanya, akan terbiasa dengan karakter, watak, dan keyakinan mereka tentang Islam hingga dewasa kelak. Nantinya di saat sudah masuk baligh, mereka akan paham, 'oh, ada yang bukan mahram'.
Darimana anak - anak yang masuk baligh, bisa menjaga atau menundukkan pandangan, menjaga sikap, tahu bahwa pacaran itu di larang, pintar dalam mengaji, memiliki sopan santun pada orangtua, keluarga, guru, kalau bukan dari pemahaman agama yang sudah di tanamkan sejak kecil?
Flashback dengan perkataan saya sebelumnya di awal, bahwa orangtua yang shalih, akan melahirkan generasi yang juga shalih. Jadi, dalam tumbuh kembang seorang anak di mulai sejak ia lahir hingga dewasa, tetaplah pernanan orangtua nomor satu, paling utama.
Jadi, bila ada anak di tingkat dasar sudah mengenal 'pacaran', siapa yang harus disalahkan? Orangtuanya.
Sekian.

Comments
Post a Comment