Skip to main content

Marah Dan Memaafkan

Sudah sejak dua hari lalu, jemari ini ingin sekali mengetik. Ada banyak hal yang ingin ku urai dalam tulisan. Salah satunya adalah dua hal tentang marah, dan memaafkan. 
Ini telah menjadi ujian terberat di tahun ini, ada hal lain selain kepergiaan kakakku. Terhitung sejak itu, sudah dua bulan aku mengubah kepribadianku.

Sebelum aku akan mengisahkan apa yang telah terjadi, ada beberapa sifat buruk yang ingin aku berbagi. Ini bukanlah aib untukku, inilah aku – sebelum berubah dua bulan lalu – aku memiliki sifat teramat buruk dalam diri ini. Temperamental dan moody.

Aku adalah orang yang mudah sekali tersulut. Bila ada hal yang membuatku jengkel, maka dalam sekejap watak kerasku akan datang. Bisa dari mulutku yang akan meracau kasar, bisa juga dua tangan ini akan andil turut serta menjelaskan emosiku. 
Aku selalu memandang sesuatu dari banyak porsi atau sisi. Tidak bisa dengan satu bukti atau satu info, semua harus masuk ke akalku terlebih dahulu. Dan jika hal tersebut menyulut temperamental, siapapun akan terlahap dengan tikaianku.

Kehidupanku diperbanyak oleh dunia kerja dan dalam rumah. Maka dua hal tersebutlah yang paling dominant menguasi otak dan emosi. Aku tidak akan membahas akarnya dari dua duniaku tersebut, namun jelas, dari ke dua ruang lingkupku itulah, yang telah merubah diriku sekarang.

Alkisah pertama;

Hingga kini aku memiliki perasaan bersalah teramat dalam, dan ini akan terjadi seumur hidupku. Yaitu, tentang ibuku, kakakku, dan adikku.

Ibuku. 
Aku memiliki kisah pilu dengan ibuku sendiri. Mulai memasuki masa remaja, egois ku berada di puncak atas. Berangsur hingga aku dewasa. Bahkan sampai aku telah menjadi tulang punggung keluarga sepenuhnya, egois ku tetap ada. Walau takarnya sudah tidak lagi di puncak, tapi di kaki puncak. *joke
Mengatur ulang kisah remajaku yang begitu kacau, ingin ku binasahkan tiap waktunya. Selalu dan selalu bertengkar dengan mamah. Tiada hari tanpa pertengkaran. Sering terjadi memang karna pembahasan mamah yang tidak masuk ke akal sehat. Yang akhirnya aku ke tahui beberapa tahun lalu, bahwa sejak aku kecil, mamah mengidap Schizophrenia. Tentu bila aku tahu sejak kecil pun, tetap tidak akan merubah keadaan pertengkaran setiap hari. Karna, sungguh sulit bila hidup berdampingan dengan orang berkarakter Schizophrenia. Aku sempat meninggalkan mamah. Bahkan tidak bisa terhitung berapa kali aku kabur dari rumah.
Aku pernah membenci ibuku. Beliau kasar dan selalu menuntut. Saat aku masih sekolah, mamah menuntutku untuk menjadi anak pintar dan berkelas. Realita dari ekspektasinya adalah, sering ku dapatkan nilai di bawah angka lima. Jangan tanya bodohnya.
Setelah tidak bersekolah, aku sempat kembali tinggal di Bandung. Dan enggan pergi dari kota tersebut. Tapi mamah memaksa dan aku terpaksa ikut dengannya tinggal di Depok. Hingga kini. Keterpaksaan itu hingga kini tetap ada. Karna Bandung telah mengambil jiwaku.
Intinya, aku memiliki perasaan bersalah teramat dalam pada ibuku. Betapa bodohnya aku, telah membuatnya terluka di hari-hari kami bertengkar. Bahkan bisa berminggu-minggu, aku tidak tahu seperti apa kabarnya. Dan faktanya, aku baru benar-benar tinggal dengan mamah (tanpa ada kabur  berbulan-bulan bahkan sampai tahunan), terhitung sejak 2013 hingga kini. Sebenarnya akhir tahun 2017 sempat kabur (karna pertengkaran lagi), tapi hanya dua bulan. Dan peristiwa kabur tahun lalu, yang paling sebentar.
Jangan katakan aku anak yang tidak memiliki belas kasihan terhadap orangtua. Coba sekali saja rasakan tinggal dengan salah satu keluarga yang memiliki ketergantungan (tidak bisa di katakan) dan memiliki penyakit schizophrenia. Bisa bertahan tanpa ada kabur sekalipun, waah, hebat sekali mentalnya.

Kisah kepada kakak dan adikku, tidak akan aku ceritakan. Karna tentu sangat panjang dan rumit. Dapat di intikan, karna sifatku yang moody, aku type yang mendekati mereka lebih dulu dan tak senang bila di dekati. Terkadang aku akan membuat guyonan yang dapat membuat mereka tertawa tergelak. Namun bila rasa malas berbicara, maka tak ada satu patah pun, terucap untuk berbicara pada mereka. Dengan melihat mereka baik-baik saja, itu sudah cukup. Aku lebih suka memantau. Yaa, utamanya sih, murni dari moody. Lalu bagaimana bila temperamental ku datang? Gambarkan sendiri, aku yang sering bertengkar dengan mamah, namun bila aku bertengkar dengan kakak dan adikku, maka mamah adalah orang pertama yang keluar mencari aman. Bukan menyelamatkan salah satu anaknya. Emosiku terlampau kokoh saat itu.

Alkisah ke dua.

Aku bekerja di bidang fashion. Tidak benar-benar menghandle fashion. Aku bekerja sebagai kuli-nya. *joke
Karna aku bekerja di pusat dari brand fashion tersebut, maka aku akan bertemu dengan puluhan orang setiap hari dengan kepribadian mereka yang beragam. Kami tidak bertemu secara fisik tentunya, hanya melalui media social. Memiliki partner kerja, memiliki bos yang setiap hari memantau, tak jarang suasana tegang terjadi. Nyaris setiap minggu terjadi. 
Ada yang aku pastikan hingga kini, bahwa dua partnerku pernah berada di posisi sangat membenciku. Tentu kembali karna watak kerasku. Terkadang, aku sungkan untuk menyuruh hal-hal berat layaknya merapihkan barang di rak, atau sekedar kebersihan. Walaupun sebenarnya pasti mereka merasa, aku ini bisanya hanya menyuruh-nyuruh mereka. Well, aku tidak akan bahas detailnya. Bila mereka membaca part ini di kemudian hari, maafkan aku ya..

Pertengahan tahun lalu, aku memiliki masalah terbesar yang aku alami dengan sahabatku yang juga adalah rekan kerjaku. Intinya kami sama-sama bersalah. Pastinya juga, dia tidak akan pernah lupa bagaimana menyebalkannya diriku. Andai dia bisa memutar waktu, kemungkinan juga dia tidak ingin mengenalku. Karna, itulah yang aku rasakan. Kami sama-sama melakukan kesalahan, sama-sama sakit hati. Namun aku tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Kalau aku, sepertinya luka itu tidak akan pernah tertutup.

Dari dua lingkup hidup dari keseharianku, ada satu hari yang membuatku saat itu ingin meledakkan emosi dengan sebesar-besarnya. Rasanya emosiku hendak keluar melalui ubun-ubun. Namun beberapa detik kemudian, amarah besar itu ku redakan dengan sebuah hadits “لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ Janganlah marah, bagimu surga”, dari Shofiyah ku dapatkan hadits tersebut. Perlahan aku mengatur nafas emosi menggebu di hati. Hingga aku terdiam dan  telah banyak yang aku renungkan, bila aku ingin keadaan membaik, maka aku yang harus berubah memperbaiki adabku.

Jangan tanya bagaimana sulitnya beradaptasi dengan temperamental yang harus ku singkirkan. Sulit, sangat sulit. Terhitung sejak dua bulan lalu hingga kini, aku telah mendapati sakit radang amandel, dan selama tiga hari berturut, aku mengalami buang air (mencret’ maaf), efek samping dari stress yang aku pendam. 
Aku berpikir, ini tidak baik dengan kesehatanku. Namun aku harus tetap melawan kelemahanku, yaitu menyerah. Aku harus benar-benar menyingkirkan sifat buruk yang ada dalam diriku, temperamental. Aku ingin hidup dengan lebih baik. Mampu meredam amarah dan sanggup untuk memaafkan. Aku harus mempensiunkan temperamentalku di usia duapuluh enam ini.

Lalu apa yang aku lakukan selama dua bulan terakhir ini? 
Ada beberapa hal yang membuat aku ingin keluarkan si temperamental, namun ku urung dengan hadits tentang amarah. Awal-awal, aku seperti tidak mengenali diriku. Berlagak biasa, tenang, bahkan ceria, di dalam gejolak emosi yang meronta untuk keluar. Aku benar-benar berusaha menstabilkan emosi.
Pernah aku menggerutu diriku “Loe tuh, lagi marah! Lagi jengkel, kan?! Marah aja! Jangan sok, ketawa – ketiwi dalam emosi. Bukan loe banget!”. Namun realita, aku terus bersikap seolah tidak ada marah dalam diriku.

Mengapa aku melakukan hal ini? 
Marah dan memaafkan adalah dua hal tersulit untuk aku lakukan. Bisa menghandle marah, dan bisa memaafkan, adalah hal terhebat yang aku gambarkan. Bila aku lulus, bukankah aku adalah orang hebat untuk diriku sendiri? Aku dapat membuang ego, emosi, temperamental, dari diriku. Dan aku belajar untuk memaafkan di mulai dari memaafkan kesalahan-kesalahanku yang sudah menumpuk. Bagiku, sukses dalam pengembangan diri adalah, dapat memaafkan dirinya sendiri dengan istighfar. Juga orang yang sukses itu bukan dari kekuatan bergelut, namun ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.

Aku ingin menjadi orang yang hebat dan sukses untuk diriku sendiri. Karna, pembentukkan manusia bukankah seharusnya semakin hari kian semakin lebih baik?

Demikianlah kisah yang ku utarakan dalam pena blog. Semoga ada pembelajaran yang bisa di petik. Dan blog ini akan menjadi pengingatku di masa tua nanti.

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Cinta Dalam Diam

Jemariku meraba ratusan buku yang berjejer pada raknya. Hatiku gundah, kali ini, ingin membaca kisah seperti apa? Sesuatu yang menyemangati, atau hal-hal yang terasa pilu di hati? Langkah ku melewati lebih dari 4 rak buku yang berdiri kokoh di dalam toko. Mataku melirik pada sebuah judul. Pada satu-satunya judul yang dapat menarik perhatianku. Ku baca perlahan prolog yang berada di sampul belakang, ku dalami setiap kalimat, dan ku pahami nyawa yang tertulis dalam cerita tersebut. Aku tertegun. "Ya Allah, apakah kisah ini sama-dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini padaku?" batinku berbisik. Aku terdiam beberapa menit dalam argumen dengan hatiku, apakah ada yang bisa aku petik dari kisah ini? Entah... Siapa yang akan tahu bagus atau tidaknya kisah ini? Dan mana bisa diketahui seberapa banyak penggalan cerita ini yang dapat dipetik, bila belum terjamah untuk membacanya? Lama aku tertegun dalam diam sambil menatap lekat buku ini. "A, apakah k...

Aku Dan Pilu

Sudah hampir satu bulan ini hatiku dirundung pilu dan gelisah. Banyak sekali hal yang ku pikirkan. Dan kerinduan yang membendung besar. Dimulai dari kemo mamah yang ke empat ditanggal 12 Septermber 2018, setelah masa kemo beberapa hari, mamah lebih sering terlihat murung. Beliau bukan type orang yang mudah menceritakan apa yang dirasakannya, jadi aku tak tahu apa yang terjadi. Jangan tanyakan kenapa aku tidak bertanya saja? Sudah. Jawab beliau “Nggak’ apa-apa” . Sesingkat itu memang wanita untuk menjawab pertanyaan. Murungnya mamah bukan dikurun waktu yang sebentar, namun beberapa minggu bahkan menjelang kemo nya yang ke lima. Berulang kali ku ingatkan, untuk menjaga kesehatannya agar jangan sampai kejadian sebelum kemo ke empat, terulang lagi. Hari itu, selasa 10 Septermber 2018, aku mendaftarkan kemo mamah yang ke empat, juga meminta jadwal kemo yang ke lima. Hancur hati ini manakala dokter mengatakan, “Leukosit ibunya rendah, harus disuntik obat. Tapi persediaan disini seda...

Kartini

Selamat Hari Kartini untuk perempuan Indonesia. Semoga, semakin bertambah perempuan yang dapat mengharumkan Agama, Negara, dan Keluarga. Di zaman dahulu, hampir seluruh perempuan menjadi "paksaan" dalam bekerja, maupun untuk lelaki. Namun kini berbalik. Kini sudah banyak perempuan yang sukses dalam bidang pendidikan, dan usaha. Sudah tak terhitung, kini perempuan lebih berhasil. Ini peningkatan. Namun, tak juga menurun tingkat perempuan yang menjual kehormatannya, demi keberhasilan hidup mewah. Lokalisasi tiap daerah masih banyak. Sebagai perempuan, baiknya menerapkan seperti yang telah tercipta pada dirinya: Mulia. Perempuan itu, cenderung dengan Cantik dan Bersih. Maka cantikanlah hati, dan bersihkanlah iman. Agar dapat memberikan energi positif. Terutama dalam lingkungan, perempuan sangat berpengaruh. Karna perempuan cenderung dengan bersih. Untuk perempuan, mari bersihkan iman dengan juga membersihkan lingkungan. Ka...