Beranjak usia 20 tahun hingga sekarang, jarang sekali aku berinteraksi dengan lingkunganku. Sehingga tidak banyak orang tau siapa aku. Bukan aku malas bergaul. Ada beberapa dari mereka yang mengenaliku, berulang kali menanyakan “Kapan kamu menikah?”. Namun, bukan kalimat itu pula yang aku kesalkan. “Cari pasangan yang bisa bantu keluargamu. Kasian mamah”. Kenapa harus berkata seperti itu? Setidak bergunanyakah aku untuk keluargaku? Sampai-sampai harus mencari pasangan yang dapat menolong keluargaku. Sungguh bila pemikiran mereka menikah bisa membantu meringankan beban finansial keluarga, aku sangat sanggup untuk bekerja mencari uang untuk menafkahi mamah dan adikku. Tak perlu ada suami yang membantu. Aku bisa sendiri.
Mohon untuk tidak berpikir bahwa aku terlihat sangat angkuh dan egois. Aku hanya tidak suka dengan anggapan "Menikah bisa menyelesaikan masalah kuliah, pekerjaan, atau finansial keluarga". Tidak se sepele itu. Menikah bukan perkara memperbaiki finansial semata. Aku bahkan ingin sekali bila sudah menikah nanti, tetap bisa bekerja untuk menafkahi keluargaku. Namun jika tidak bisa, bolehkah aku berdiam saja mempertahankan status single ini? Aku sangat khawatir dengan keadaan ibu dan adikku, bila aku menikah nanti. Bagaimana dengan mereka?
Allah subhanahu wa ta'ala tentu telah menjamin semua kehidupan hamba-Nya. Bukan aku ragu pada ketetapanNya. Aku ragu pada diri ini, apakah tetap bisa merawat ibu dan adikku, walau aku sudah menikah?
Jujur, aku berkeinginan sekali memiliki keluarga baru, suami dan keturunan-keturunanku. Tapi setiap kali aku membayangkan hari pernikahan, selalu wajah mamah yang tak sanggup aku lukis. Beliau akan mengatakan bahagia dan tidak apa-apa. Aku dapat menjamin, hari itu beliau merasa kehilanganku. Akupun kehilangannya.
Maafkan aku yaa Allah, bila
harus ku katakan, aku takut melangkah untuk mencari siapakah yang ingin
menggenggam tangan ini untuk menuntun ku menuju JannahMu. Bukan aku tak mempercayai
keagunganMu, ya Allah.. Engkau Maha Membulak balikkan hati, Engkau dzat pemegang hati ini. KepadaMu hati ini
kusimpan, ku titipkan pada yang Haq dariMu. Dan dariMu lah ku percayakan dia, yang
sangat Kau ketahui siapa yang pantas untuk aku cintai dan mencitaiku karenaMu.
Bimbinglah aku dalam petunjukMu yang benar, dan jauhkan aku dari keraguan pada
yang telah Kau persiapkan. Namun, bolehkah aku ragu padanya yang dapat menerima
keadaanku apa adanya? Begitu banyak cacat dalam diri ini dari kehidupanku. Aku
tidaklah memiliki pendidikan dan finansial yang dapat dibanggakan. Rupa ku pun
akan sering tidak menyenangkan untuk dilihat. Bila suatu saat nanti ada yang
datang meminangku, buatlah hatinya agar tidak ragu, karna aku hanya memiliki iman
dan Engkau yaa Allah. Aku telah banyak belajar tentang adab pernikahan. Tentu
belum ku kuasai sepenuhnya. Sungguh aku tak kan pernah meragukan hadiah darimu,
namun…. Aku ragu dengan dirinya yang bisa menerimaku. Sempat aku berpikir,
apakah ada seorang lelaki sholeh yang mau menerimaku, mencintaiku karenaMu, dan
memiliki impian bahagia denganku di dunia dan JannahMu? Dongeng Ciderella
hanyalah karangan tangan manusia, namun bolehkah aku juga bisa mendapatkan
kebahagiaanku walau aku seorang upik abu? Yaa Allah, kebahagiaan dalam
pernikahan itu seperti apa? Apakah hanya perihal hubungan biologis saja? Saling
mencintai? Saling sipport? Saling melengkapi? Tidakkah yang lebih baik dari
semua itu, adalah taat kepadaMu? Menjalani bahtera rumah tangga dengan cinta
karenaMu dan pengharapan karunia dariMu semata. Itukah sebenarnya kebahagiaan
berumah tangga?
Selayaknya seorang wanita yang ingin sekali merasakan mengandung, melahirkan, dan menyusui, ku dambakan 3 jihad itu bisa datang dalam kehidupanku.Tak bisa ku tutupi, aku mendambakan beberapa anak lahir dari rahimku. Kiranya 3 jihad itu bisa kurasakan, betapa bahagianya aku menjadi wanita yang sempurna. Namun, aku tak kan berkecil hati bila impianku dalam berumah tangga, tak dapat terjadi. Karna belum tentu jodoh yang akan lebih dulu datang kepadaku, bisa jadi kematianlah yang lebih dulu menghampiriku.
Comments
Post a Comment