Skip to main content

Keluarga yang jauh dari sunnah


Bismillah..
Assalammua'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Pernahkah mendengar kata “Hijrah?” Di akhir jaman ini sudah banyak sekali orang-orang berkata “Hijrah”. Sebenarnya sudah dari dulu, tapi mungkin pembahasan “Hijrah” ini, baru beberapa tahun silam kebelakang hingga kini, marak dibicarakan.

Sebenarnya, “Hijrah” itu apa sih?

Jawab: Berpindah dari suatu tempat, ke tempat yang lain.
Penjelasan: Pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memimpin, dakwah kaum muslim banyak ditentangkan oleh orang-orang kafir Quraisy di kota Mekah. Maka Rasulullah shalallahu a’alihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabat, berhijrah dari Mekah ke Madinah. Mohon maaf bila ada penapsiran saya yang salah.
Kemudian, “Hijrah” ini akhirnya banyak orang pakai setelah mereka “Berpindah dari suatu (hal, tempat, kebiasaan) yang buruk, ke keadaan yang lebih baik.
Cont: Seorang preman telah mendapatkan hidayah, kemudian ia insyaf atau taubat.

Nah, ini… Sebenernya kata sebelum “Hijrah” ini popular, banyak orang-orang menyebutkan kata “Insyaf atau taubat” ketika berubah menjadi lebih baik.
Tapi sayangnya, banyak juga dilain pihak menyebut “Hijrah” ini menjadi suatu hal yang lagi trend. Hhmm, kira-kira bener ‘gak sih?

Maraknya muda-mudi “Hijrah” setelah mendengar kajian di kampus, teman dari teman, atau suatu liqo, ini menjadi pandangan lingkungan bahwa “Hijrah” adalah sesuatu yang sedang trend saat ini.
Kalau buat saya sih, ‘gak apa deh kalau “Hijrah” dikatakan sedang trend, karna trend nya bersifat positif, ya kan? Tapi semoga hijrah yang saat ini ramai di masyarakat muslim, tidak hanya trend semata, namun juga keep istiqomah, aamiin..

Pemuda pemudi sudah banyak berhijrah, lalu bagaimana dengan keluarganya?
Ini point yang ingin saya bahas.

Banyak sekali orang-orang yang sudah berhijrah, namun masih ada keluarga yang tidak mendukung hijrah salah satu anggota keluarganya. Mengatakan bahwa hijrah itu cuma ikut-ikutan, atau mirisnya sampai ada yang berpikiran mengikuti suatu ajaran yang menentang agama. Karna, tentu tidak semua kaum muslim terlahir dari keluarga yang paham syariat. Kebanyakan dari mereka, terlahir sebagai muslim, namun pengetahuannya tentang Islam sebatas yang wajib saja. Itupun masih sulit dilakukan. Sholat lima waktu, misalnya.

Kemudian gimana sih, untuk tetap menjalankan syariat yang sudah dipelajari, didalam keluarga yang tidak menyetujui? Terutama orangtua.

Jawab: Dakwah kepada keluarga bukan dengan bentuk perkataan, namun dengan perbuatan.
Biasanya orang yang sudah belajar syariat, perlahan – lahan pemikiran, pandangan, dan perilaku akan berubah. Dari yang tadinya tidak begitu perhatian kepada orangtua, menjadi sangat perhatian, karna dalam Islam, orangtua itu adalah surga di dunia yang harus diperjuangkan. 
Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga.” (HR Muslim)

Jadi, tidak perlu banyak berucap bahwa Syariat islam, begini, begitu, bercerita panjang lebar tentang syariat yang orangtua atau keluarga, belum paham dan terbiasa. Sungguh, melaksanakan syariat di keluarga itu sulit. Namun disini bentuk jihad kita kepada Islam, menolong agama Allah azza wa jalla.

Berubahlah dengan perubahan yang positif. Tidak perlu terburu-buru juga untuk memperlihatkan bahwa kita telah belajar syariat. Karna, kalau terlihat jelas perubahan dalam satu waktu, itulah yang akan keluarga pikir, bahwa kita mengikuti ajaran sesat. Padahal tidak.

Syariat Islam tidak mengajarkan untuk berubah dalam pemahaman dengan satu kali kaji saja. Untuk memahami suatu ilmu, perlu banyak untuk di kaji ulang. Namun, ada hal yang harus dituruti segera bila kita telah mendapatkan ilmunya. Yaitu, perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala. Ya, firman Allah yang mengatakan “Yaa ayyuhalladzina amanu”, itu adalah seruan dari Allah untuk hambanya, orang-orang beriman, yang bisa menjadi dua hal; Perintah atau Larangan. Tandanya, bila ayat tersebut telah kita ketahui, maka tugas seorang mukmin adalah, mentaatinya. 

Lain dengan sunnah. Banyak orang berpresepsi bahwa sunnah bila dikerjakan mendapatkan pahala, namun bila ditinggalkan tidak berdosa. Oh ya?
Tidak semua sunnah seperti itu. Tentu harus melihat seperti apa aspek yang dikerjakan.

Ada salah satu sunnah yang saya kerjakan sehari-hari setelah saya mengetahui betapa besar pahala yang di dapat. Yaitu, sholat sunnah rawatib 12 rakaat, setiap hari.
“Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seorang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Dari Kitab Riyadhussalihin)
Jadi, tidak bisa dibilang bahwa sunnah bila dikerjakan mendapatkan pahala, namun bila ditinggalkan tidak berdosa. Karna ada banyak sekali amalan sunnah yang bila ditinggalkan, merugi. Yuk, mindsetnya diganti dengan pemahaman syariat.

Kembali lagi ke pembahasan, keluarga yang tidak mengenal syariat. Sedikit bercerita tentang saya, yang terlahir bukan dari keluarga yang paham dengan syariat Islam; kami melakukan apa yang sudah menjadi turun menurun dari nenek moyang. Termasuk ibu saya, beliau adalah keluarga yang beberapa kali menentang akan hijab syar’i yang selama ini saya kenakan. Untuk hal ibadah yang telah Allah perintahkan, seberapa keras orangtua saya melarang, maka saya tidak akan patuh pada orangtua. Karna tetap, perintah Allah adalah utama yang harus di taati. Maka, yang saya kerjakan adalah bentuk sikap saya kepada ibu. Memberikan kebahagiaan jasmani dan ruhnya, sebagai kewajiban saya berbakti kepada orangtua.

Bagi saya, terlahir dari keluarga yang tidak paham syariat Islam, itu jauh lebih baik daripada mendapati orangtua yang kafir. Karna, doa kita masih tersampaikan kepada orangtua. Maka, jangan bersedih atau kesal karna orangtua atau keluarga yang kita miliki, tidak mengenal syariat. Doakanlah, semoga Allah segera membukakan pintu hati mereka, sadar akan hidayah yang selama ini telah diterima. Walau orangtua tidak paham syariat Islam, tetap harus taat, harus patuh, tetap harus menghormati orangtua.

Banyak sekali yang telah Allah perintahkan, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan, tentang berbakti pada orangtua. Sekalipun orangtua kafir, sang anak tetap harus menghormati. Namun, tidak dianjurkan untuk mentaati mereka.

Semoga kita senantiasa berbakti kepada orangtua, juga bersikap baik kepada keluarga. Dengan tidak spontan berdakwah tentang ilmu yang baru saja di pahami. Ilmu syariat itu perlu untuk dikerjakan, namun tetap harus menjaga akidah seorang mukmin kepada keluarga dan ruang lingkupnya.

Sekian.
Wassalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Cinta Dalam Diam

Jemariku meraba ratusan buku yang berjejer pada raknya. Hatiku gundah, kali ini, ingin membaca kisah seperti apa? Sesuatu yang menyemangati, atau hal-hal yang terasa pilu di hati? Langkah ku melewati lebih dari 4 rak buku yang berdiri kokoh di dalam toko. Mataku melirik pada sebuah judul. Pada satu-satunya judul yang dapat menarik perhatianku. Ku baca perlahan prolog yang berada di sampul belakang, ku dalami setiap kalimat, dan ku pahami nyawa yang tertulis dalam cerita tersebut. Aku tertegun. "Ya Allah, apakah kisah ini sama-dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini padaku?" batinku berbisik. Aku terdiam beberapa menit dalam argumen dengan hatiku, apakah ada yang bisa aku petik dari kisah ini? Entah... Siapa yang akan tahu bagus atau tidaknya kisah ini? Dan mana bisa diketahui seberapa banyak penggalan cerita ini yang dapat dipetik, bila belum terjamah untuk membacanya? Lama aku tertegun dalam diam sambil menatap lekat buku ini. "A, apakah k...

Aku Dan Pilu

Sudah hampir satu bulan ini hatiku dirundung pilu dan gelisah. Banyak sekali hal yang ku pikirkan. Dan kerinduan yang membendung besar. Dimulai dari kemo mamah yang ke empat ditanggal 12 Septermber 2018, setelah masa kemo beberapa hari, mamah lebih sering terlihat murung. Beliau bukan type orang yang mudah menceritakan apa yang dirasakannya, jadi aku tak tahu apa yang terjadi. Jangan tanyakan kenapa aku tidak bertanya saja? Sudah. Jawab beliau “Nggak’ apa-apa” . Sesingkat itu memang wanita untuk menjawab pertanyaan. Murungnya mamah bukan dikurun waktu yang sebentar, namun beberapa minggu bahkan menjelang kemo nya yang ke lima. Berulang kali ku ingatkan, untuk menjaga kesehatannya agar jangan sampai kejadian sebelum kemo ke empat, terulang lagi. Hari itu, selasa 10 Septermber 2018, aku mendaftarkan kemo mamah yang ke empat, juga meminta jadwal kemo yang ke lima. Hancur hati ini manakala dokter mengatakan, “Leukosit ibunya rendah, harus disuntik obat. Tapi persediaan disini seda...

Kartini

Selamat Hari Kartini untuk perempuan Indonesia. Semoga, semakin bertambah perempuan yang dapat mengharumkan Agama, Negara, dan Keluarga. Di zaman dahulu, hampir seluruh perempuan menjadi "paksaan" dalam bekerja, maupun untuk lelaki. Namun kini berbalik. Kini sudah banyak perempuan yang sukses dalam bidang pendidikan, dan usaha. Sudah tak terhitung, kini perempuan lebih berhasil. Ini peningkatan. Namun, tak juga menurun tingkat perempuan yang menjual kehormatannya, demi keberhasilan hidup mewah. Lokalisasi tiap daerah masih banyak. Sebagai perempuan, baiknya menerapkan seperti yang telah tercipta pada dirinya: Mulia. Perempuan itu, cenderung dengan Cantik dan Bersih. Maka cantikanlah hati, dan bersihkanlah iman. Agar dapat memberikan energi positif. Terutama dalam lingkungan, perempuan sangat berpengaruh. Karna perempuan cenderung dengan bersih. Untuk perempuan, mari bersihkan iman dengan juga membersihkan lingkungan. Ka...