Hai..
Cukup lama aku tak menulis di blogger ini. Kini aku kembali.
Entah cerita yang akan aku bawakan kali ini akan menarik, lebih menarik dari sebelumnya, atau sama saja-tidak menarik.
Telah banyak sekali kejadian yang terjadi sejak awal tahun 2018, hingga kini berada dibulan September, tanggal 5, tahun 2018.
Akhir tahun lalu aku tak pernah tau misteri apa yang akan terjadi di tahun ini. Seperti biasa, harapan semua manusia adalah dapat melakukan yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi apakah aku sudah melakukannya selama ini?
Di awal Februari mamah memulai pengobatan pertamanya. Sakit yang dialaminya sejak Juni 2017 kian menunjukkan bahwa apa yang dideritanya adalah penyakit berbahaya. Ya, karna butuh tidakan operasi sebagai jawabannya. Tumor ovarium, telah membuat tubuhnya mengalami perubahan disetiap hari. Perutnya semakin membesar, namun berat tubuhnya terus mengalami penurunan.
Dua bulan mamah melewati lika liku untuk mendapatkan tindakan operasi, hingga kerja keras selama itu membuahkan hasil, jadwal operasi ditentukan pada tanggal 27 April 2018.
Bahagia mamah mengiring kebahagiaanku, mamah akan sembuh.
Hari itu selasa 27 Maret 2018, mamah kembali melakukan check up ke dokter. Tepatnya aku lupa apa yang kami lakukan di Rumah Sakit. Karna sampai detik ini, ingatan yang tak pernah hilang adalah, aku membuat kesalahan dihari itu.
'Aa, (panggilan untuk) kakak ku satu-satunya sedang sakit kurang lebih hampir seminggu. Tak ada tanda atau gejala buruk yang terlihat. Namun entah mengapa aku bisa merasakan bahwa rejekinya (almr), akan berakhir. Hampir seminggu ditiap malam, aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Tidurnya selalu gelisah, entah mengapa.
Selepas subuh di hari itu, aku siap untuk pergi ke rumah sakit, untuk keperluan pengobatan mamah. Aku harus datang lebih awal karna jarak yang cukup jauh, dan peraturan rumah sakit tersebut lumayan membuahkan kelelahan jika berangkat agak siang. Tepat disamping saat aku akan mengeluarkan motor, 'Aa buang air kecil dilantan ruang depan akibat tak tertahannya, aku yang persis disampingnya, merasa kesal dan berteriak sambil mendorong kepalanya (menoyor). Tak ingin berlama, aku bergegas keluar karna menghindari air kencing yang akan mengenai kakiku. Aku tak tau lagi apa yang terjadi selanjutnya, yang pasti mamah sangat marah hari itu. Jelas.
Di rumah sakit, aku diberi tau oleh adikku bahwa mamah sangat marah, bahkan beberapa kali memukulnya. Aku sangat tau pasti seperti apa kemarahan mamah. "Mohon untuk tidak menilai bahwa kami bertindak kasar tanpa belas kasihan. Mamah berjuang selama ini sendirian merawat tiga anaknya tanpa ada bantuan dari suami. Sejak kecil, lelaki yang ku panggil 'papah' telah pergi mendahului kami pada sang pencipta. Tak ayal membuat mamah stres hingga menyebabkan dirinya terkenal "Skizofrenia". Hingga saat ini, beliau mengidap penyakit tersebut. Sehingga apapun yang mamah rasa itu 'ancaman' atau 'kepedihan', membuat emosinya sulit untuk di kontrol. Semarah apapun mamah terhadap anak-anaknya, ada sisi lain yang menggambarkan 'cinta' begitu besar di dirinya. Mamah hanya tidak tahu kepada siapa emosinya dapat ia luapkan. Tidak hanya 'Aa yang mengalami kekerasan emosional mamah. Aku dan adikku pun, sering mengalami."
Rabu 28 Maret 2018, malam saat aku pulang kerja menjadi sebuah tanda tanya, firasat, juga sekaligus jawaban atas apa yang terjadi selama sepekan terakhir. Aku memasukkan motor kedalam rumah, sembari melihat keadaan 'Aa saat itu yang terbaring diranjangnya. Slimut tebal menutupi tubuhnya. Aku perhatikan dengan dalam, bahwa aku melihat warna asing diwajahnya. "Ia tak kan lama", gumamku. Ku tanyakan apa yang terjadi, dan adikku menceritakan semua, setelah pulang dari rumah sakit mamah memandikannya karna merasa tubuh 'Aa bau, pikirku mungkin efek ia mengompol tadi pagi, dan belum bersih. Sedangkan mamah tidak bisa mengurusnya di pagi hari karna harus ke rumah sakit. Adikku pun bercerita bahwa seharian itu ia tidak mau makan apapun. Satu butir nasi pun tidak masuk ke lambungnya. Aku menyarankan agar ia diberi telur rebus bila memang tidak mau makan nasi. Ku lihat segelas susu putih berada dekat tubuhnya yang sedang terbaring. Dalam duduk ku setelah menunaikan sholat Isya, ku perhatikan ia yang semakin berubah warna wajahnya. "Ya Allah, haruskah?", aku memikirkan hal yang tidak ingin itu terjadi. Pergerakan perutnya masih membuat ku tenang, bahwa ia akan baik-baik saja. Seperti sebelumnya, sakitnya hanya meriang. Karna memang ia tidak sakit yang serius, hanya berkurang nafsu makan hampir tiga hari sebelum wafatnya.
Ya, ia pergi.. Meninggalkan kami semua malam itu.
Aku masuk ke dalam kamar sesaat setelah memandangi gerakan nafas yang ku lihat dari perutnya, selesai shalat Isya aku berdiam di kamar selama satu jam lebih. Setengah sepuluh malam suara mamah menyadarkan ku, ada suatu hal buruk terjadi. Mamah memanggil 'Aa dengan nada yang takut. Kami semua pun, takut.
Aku lari bergegas keluar untuk meminta pertolongan pada tetangga sebelah, dan beliau memanggilkan beberapa tetangga yang lain. Hingga bidan datang memeriksa dan terjadilah hal yang selama ini hanya menjadi firasatku. Kami berduka.
Berada diposisi tengah dalam keluarga ini, mamah dengan syndrome Skizofrenia yang sedang melakukan pengobatan tumor ovarium, dan adikku yang memiliki penyakit Epilepsi sejak ia duduk dibangku kelas enam sekolah dasar, harus bisa menenangkan keduanya agar tidak down. Adikku, tidak lah sulit untuk menenangkannya, walau aku tahu seberapa hancur perasaannya kala itu, sama denganku. Terus menerus ku katakan, "Jangan memikirkan sampai membuat kepalamu sakit. Ikhlaskan, itu yang dapat kita lakukan saat ini". Ungkap ku yang sebenarnya teruntuk diriku juga.
Lalu bagaimana dengan mamah?
Berulang kali mamah membangunkan 'Aa, bahkan selang kompor harus terpaksa dicabut dari tabung gas karna paniknya mamah memasak air hangat membuatkan minum untuk 'Aa. Berteriak dan terus menyuruhku membangunkan 'Aa. "'Aa anak sholeh. Dia ga berdosa. Mamah yang berdosa", begitu terus kata-kata yang diucapkannya, mengeluarkan penyesalan yang dalam. Sampai jasad alr 'aa sudah masuk ke liang lahat, mamah terus mencoba membangunkannya. Membangunkan semua dari mimpi terburuknya. Begitulah mamah yang tidak bisa menerima kepergian anak pertamanya, jauh lebih hancur daripada ku.
Belajar banyak dari kepergian alr 'aa, bahwa setiap perbuatan kita akan terlihat bagaimana nanti proses kematian yang akan datang. Tidak ada satupun yang tau seperti apa sakaratul mautnya. Sangat ku yakini, bahwa ia tidak merasakan sakit sedikitpun. Perjalanan ke tempat peristirahatan terakhirnya di Bandung pun sangat lancar tak ada kedala. "Kita harus mengatar 'aa dengan cara seperti ini", perkataan mamah kala itu sungguh menyayat hatiku. Di depan mobil yang kami tumpangi adalah jenazah 'aa yang dibawa oleh mobil ambulance. Sirinenya tak dapat aku lupakan, hingga saat ini manakala mendengar sirine ambulance, luka di hati ini terbuka lagi.
Ia pergi dengan sangat tenang, dan tanpa menyulitkan siapapun, termasuk mamah, ibunya. Kami tidak membayar sepeserpun untuk kain terakhirnya, juga tidak membayar ambulance yang membawanya ke Bandung. Proses pemandian dan pemakamannya pun, sangat cepat dan tak ada kendala. Benar seperti yang mamah katakan, ia tidak berdosa. Alr 'aa mengidap polio sejak bayi. Ia terlahir normal, namun setelah menerima imunisasi, suhu tubuhnya panas dan terjadi kejang yang tak dapat menolong anggota tubuhnya untuk kembali normal. Ia berkebutuhan khusus. Siapapun yang mendengar pembicaraannya akan bingung, apa yang dikatakannya, karna tidak bisa berbicara dengan jelas. Tubuhnya ringkih dan langkah jalannya pun, sulit. Hanya keimanan dan cara berpikir 'aa yang normal. Itulah mengapa kami mengatakan ia tidak berdosa, karna dengan "cacat" yang ia miliki, tak pernah meninggalkan dengan sengaja kewajibannya menyembah Allah subhanahu wa ta'ala. Ia shalat dan berpuasa Ramadhan.
Tepat satu bulan setelah kepergian 'aa, mamah menjalani operasi yang telah terjadwal. Satu hari sebelumnya, saat aku melaksanakan shalat Isya berjaamaah, ada suara tangis beberapa orang dibarisan shaf belakangku. Selepas doa selesai sholat, imam mengabarkan bahwa jamaah yang masih tertinggal di masjid tersebut untuk ikut melaksanakan shalat jenazah. DEG!!
Tahukan bagaimana perasaanku malam itu?
Luka sebulan lalu terbuka sangat lebar, sakit dan pecah tangis tak dapat ku lagi pendam. Sholat jenazah pertama kalinya ku lakukan, dengan tangis yang tak berhenti. Aku yakin, beberapa orang disekeliling, menganggap aku adalah salah satu keluarga yang meninggal. Saat pelaksanaan shalat jenazah 'aa, aku tak sempat mengikutinya karna harus menenangkan mamah yang sangat kacau hari itu, juga menjaga psikis adikku yang tidak boleh kejang.
Untuk pertama kalinya aku melaksanakan shalat jenazah dengan duka sebulan lalu yang kurasakan, ditambah esok pagi mamah harus menjalankan operasi besar pengangkatan rahim, indung telur, lemak usus dan kelenjar getah bening, yang sudah menempel dengan tumor. Perasaanku sangat kacau. Aku membutuhkan seseorang untuk menenangkan ku, tapi hanya ada Allah saat itu yang bersamaku. Saat 'aa dinyatakan tidak bernyawa, aku terus menerus menguatkan mamah, adikku, dan juga diriku, betapa beratnya posisi ini, hingga menjelang jadwal operasi mamah, seakan semua baik-baik saja tidak ada duka. Sungguh, hanya Allah yang melihat hancurnnya diriku malam itu.
Hari besar itu datang, Jum'at 27 April 2018, tepat jam sembilan pagi mamah masuk ruang operasi. Masih teringat jelas perkataan perawat pagi tu, "Ada yang mau diomongin untuk terakhir kalinya?". Aku dan adikku terpaku diam. Tak ada satupun kalimat yang kami lontarkan menjelang mamah masuk ruang operasi. "Tidak akan ada ucapan terakhir, karna aku akan menunggunya keluar dari ruangan tersebut dengan selamat!"
Berusaha menenangkan diri dengan surat Al Kahfi di jum'at pagi itu. Aku sangat yakin Allah akan selamatkan mamah.
Seorang perawat keluar dan menanyakan keluarga mamah, aku menghampiri dan diminta untuk membeli dua toples sedang, dan satu toples besar. Yakin sekali bahwa itu untuk menaruh tumor yang berada di perut mamah. Benar saja setelah dibertahu, ternyata berat tumor tersebut setara dengan bayi kembar diusia kandungan sembilan bulan.
Beberapa jam operasi, sahabatku Era datang untuk memberika support dan membawakan bekal sarapan untuk kami bertiga. Aku sangat berterima kasih padanya yang telah menemani dan menenangkan kepanikkanku.
Hingga waktu Ashar tiba, satupun perawat belum datang memberikan kabar keadaan mamah. Gelisah tiada henti karna hampr tujuh jam, operasi belum juga selesai.
Saat doa bersama selepas sholat Ashar berjamaah, imam memimpin doa untuk semua pasien yang sedang dirawat, agar segera pulih dan pulang kerumah dengan sehat. Untuk keluarga yang sedang menjalankan operasi, agar operasinya berhasil dan sehat sedia kala. Tangis tak henti - hentinya, memohon kepada Allah agar menyelamatkan ibuku. Jum'at diwaktu ashar, tertiba hujan deras mengguyur bumi, Di hari yang baik, dan di dua waktu terbaik memanjatkan do'a, satu hal pintaku pada-Nya, "Ijinkan aku untuk terus membahagiakannya", hanya itu yang ku pinta. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Penyayang, Maha Mengabulkan Doa atas kehendaknya, doa ku sore itu terkabul. Pintu lift terbuka, dan yang pertama kali ku lihat adalah, mamah. Ia selamat dari operasi besar yang dijalankannya. Dengan tangis yang deras, aku merasakan nikmatnya cinta sang Illahi kepadaku. Allah kabulkan doa ku lagi dan lagi.
Hari ini, saat aku mengetik kisah ini, mamah masih harus menjalani beberapa perawatan pasca operasi. Karna tumor yang berada dalam tubuhnya termasuk ganas, mamah diharuskan kemoteraphy sebanyak enam kali. Mamah sudah terkena kanker ovarium stadium satu.
Seperti yang ku pinta pada-Nya, bahwa aku ingin terus membahagiakan mamah, dengan extra aku berusaha agar batin mamah tidak down. Sungguh sulit, karna aku menjalaninya seorang diri.
Namun, tak seberapa bandingannya dengan mamah yang menjalani semua lika liku kesakitannya, juga duka atas kehilangan anaknya, pikirku.
Dari semua yang terjadi hingga detik ini, membuat aku tersadar akan satu persatu kesalahan dan kegagalanku. Setiap malam aku menangis merindukan 'aa. Parasaan cinta yang begitu dalam ini, mengapa terjadi setelah aku kehilangannya? Apa yang telah ku lakukan selama ini, tidaklah seberapa. Bahkan aku belum memulai apa-apa untuk kebahagiaan keluargaku. Aku masih harus terus berjalan jauh dan berjuang dengan gigih untuk menemukan Goals atas pencapaianku, membahagiakan mamah dan adikku. Memperbaiki setiap kesalahan-kesalahan, bukan berlarut dengan penyesalan.
Ada satu saudara seimanku mengatakan, "Perbanyak melakukan kebaikan, dengan niat ingin berkumpul dengan 'aa, mamah, dan adik, dalam Jannah-Nya. Hanya itu yang dapat kamu lakukan"
Aku akan berusaha mah, dek.. Agar nanti dikehidupan kita selanjutnya, kita akan berkumpul bahagia selama-lamanya dengan 'aa. Seperti yang telah Allah subhanahu wa ta'ala janjikan, untuk semua umat-Nya yang beriman, bahwa surga adalah jaminan atas ibadah kita selama ini pada-Nya.
Apapun ujiannya, aku akan hadapi dengan tawakal dan taat, karna Allah tidak pernah dzalim. Kepergian 'aa sebulan sebelum operasi mamah, Allah lebih tahu hikmah baik apa yang Ia berikan untuk keluarga kami. Juga penyakit yang di derita mamah juga Fifie, tentu Allah sudah dulu siapkan kebahagiaan, jauh di laul hafudz kami.
Allah berikan ujian, maka saat itu pula Allah perlihatkan kemampuan hamba-Nya. Ujian kecil, mendatangkan kemampuan kecil. Ujian besar, mendatangkan kemampuan besar. Allah tetapkan semua ujian manusia sudah dengan takaran Qadar yang tepat. Allah tidak pernah dzalim.
Sekilas, inilah cerita singkat yang dapat aku kisahkan. Aku harap, nantinya bisa mendapatkan waktu luang untuk mengisahkan beberapa kejadian baik buruk dalam hidupku, beserta dengan timbal balik yang Allah berikan. Semoga kita semua selalu dalam perlindungan Allah subhanahu wa ta'ala.
Aamiin..
Terima kasih.
Kamis, 6 September 2018, 00.19am
Comments
Post a Comment