Skip to main content

Shadow

Aku masih membayangkan kau hadir dalam hari ku.
Tapi betapa jahatnya aku, bayangan itu ku buat saat aku terpuruk.
Seakan aku membutuhkanmu, disaat kesusahan saja.

Sebenarnya tidak..
Aku merindukanmu setiap waktu.
Bukan pada masa ini.. Sudah sedari dulu.

Ku gambar wajahmu begitu jelas dalam bayangan.
Seakan kau menemaniku yang sedang berdiri diatas getir.
Kepalan tangan ini, bukan emosi yang keluar.. Aku sedang menggenggam tanganmu.

Bayangan itu..
Kau menahan ku dalam keluhan.. Kau larang aku untuk mengeluh.
Menggerakkan kaki ku masih dapat berjalan, jangan gunakan kaki yang ketiga dan keempat.
Bahkan mulut ku, kau kunci agar tidak bersuara "Tolong aku"

Dulu, kau ajarkan agar aku tak berharap pada orang lain.
Sejak dulu kau ajarkan aku untuk berusaha sendiri, selagi aku mampu.
Ya.. Mampu berdiri dengan kedua kaki yang masih bisa digunakan.
Kini, aku terbiasa, tak berani mengandalkan orang lain.


"Tidak perlu menjadi pintar, tapi terus lah belajar banyak hal. Jangan meminta tolong, bila masih mampu melakukan sendiri. Jangan mengeluh pada orang lain, hanya karna ingin dikasihani. Jangan menjadi orang besar kepala, jadilah si perendah hati. Jangan berbohong, dan jangan menghilangkan kepercayaan orang"


Ketegaran yang ku perlihatkan, semata-mata hanya ingin kau bangga terhadapku.

Akulah kebanggaan mu. Walaupun itu tak pernah sekalipun kau ucap.
Hidup yang ku perjuangkan, agar kalian bangga memiliki ku.

Dalam sunyi, aku menengok arah kanan.
Kau tepat disampingku.
Tapi aku tak dapat merendahkan tubuhku untuk bersandar pada bahumu.
Ini tak dapat ku jangkau.

Aku berbicara seakan membalas ucapanmu.
Membuat cerita dalam khayalan, begitu ramainya sekeliling ku.
Berjalan, kau membuat candaan. Hingga hati ini terasa damai dan sejuk.
Saat tersadar.. Aku sendirian.
Namun saat berada dikeramaian yang nyata, justru disitulah kesepian yang sebenarnya.

Diamnya aku, bukan karna tak ingin berbicara.
Tak'kan ada yang memahami.

Dengan membuat bayangan, apa aku terlihat tidak mengikhlaskan kepergianmu?
Yang kau lakukan, bahkan sudah samar dalam ingatanku..
Aku sudah lupa bagaimana cara bicara mu.

Adanya bayangan mu, karna aku sangat butuh sosok mu.

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Cinta Dalam Diam

Jemariku meraba ratusan buku yang berjejer pada raknya. Hatiku gundah, kali ini, ingin membaca kisah seperti apa? Sesuatu yang menyemangati, atau hal-hal yang terasa pilu di hati? Langkah ku melewati lebih dari 4 rak buku yang berdiri kokoh di dalam toko. Mataku melirik pada sebuah judul. Pada satu-satunya judul yang dapat menarik perhatianku. Ku baca perlahan prolog yang berada di sampul belakang, ku dalami setiap kalimat, dan ku pahami nyawa yang tertulis dalam cerita tersebut. Aku tertegun. "Ya Allah, apakah kisah ini sama-dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini padaku?" batinku berbisik. Aku terdiam beberapa menit dalam argumen dengan hatiku, apakah ada yang bisa aku petik dari kisah ini? Entah... Siapa yang akan tahu bagus atau tidaknya kisah ini? Dan mana bisa diketahui seberapa banyak penggalan cerita ini yang dapat dipetik, bila belum terjamah untuk membacanya? Lama aku tertegun dalam diam sambil menatap lekat buku ini. "A, apakah k...

Aku Dan Pilu

Sudah hampir satu bulan ini hatiku dirundung pilu dan gelisah. Banyak sekali hal yang ku pikirkan. Dan kerinduan yang membendung besar. Dimulai dari kemo mamah yang ke empat ditanggal 12 Septermber 2018, setelah masa kemo beberapa hari, mamah lebih sering terlihat murung. Beliau bukan type orang yang mudah menceritakan apa yang dirasakannya, jadi aku tak tahu apa yang terjadi. Jangan tanyakan kenapa aku tidak bertanya saja? Sudah. Jawab beliau “Nggak’ apa-apa” . Sesingkat itu memang wanita untuk menjawab pertanyaan. Murungnya mamah bukan dikurun waktu yang sebentar, namun beberapa minggu bahkan menjelang kemo nya yang ke lima. Berulang kali ku ingatkan, untuk menjaga kesehatannya agar jangan sampai kejadian sebelum kemo ke empat, terulang lagi. Hari itu, selasa 10 Septermber 2018, aku mendaftarkan kemo mamah yang ke empat, juga meminta jadwal kemo yang ke lima. Hancur hati ini manakala dokter mengatakan, “Leukosit ibunya rendah, harus disuntik obat. Tapi persediaan disini seda...

Always Next To You

Ini terlalu gila bila diberitahukan yang sebenarnya. Cinta yang berlebihan, yang bahkan tak ada satupun yang dapat mengerti akan cinta ini. Bahkan kau, si pemeran utama dalam cinta ini tak pernah tahu apapun. Aku memendam semua bagaikan sebuah surat yang tak pernah terkirim. Memberitahukan semua padamu mu pun terasa percuma. Ini tidak akan pernah mungkin. Seperti tak akan sanggup bila bertemu denganmu. Orang yang telah lama ada dalam cinta. Dan tak akan percaya bila selama ini aku telah merasakan cinta pada orang seperti mu. Orang akan selalu mengatakan aku gila, ini semua konyol. Tak'kan ada satupun yang percaya. Aku pun sebenarnya tak pernah percaya akan sejauh ini dalamnya cinta. Tapi ini bukan rekayasa yang ku buat. Ingin meminta pada Tuhan, agar cinta ini tak hanya tersurat. Meminta kau membalas semua kekonyolan ini. Agar semua orang tak lagi menertawai aku layaknya aku seperti orang gila. Tapi apakah mungkin? Keberadaan yang jauh, hal-hal yang tak mungkin di...