Senang rasanya bila melihat semakin banyak wanita memulai lembaran hari mereka dengan “berhijab” dengan niat ikhlas taat kepada Allah swt.
Setiap melihat bertambahnya wanita yang menggunakan hijab sebagai taatnya seseorang kepada Allah swt, aku turut merasakan yang sedang mereka rasakan. Tentram. Damai. Tak ada keraguan. Semua karna Allah, semua untuk Allah. Aku yakin, setelah seorang wanita mengenakan hijabnya dengan ketulusan hati, akan merasakan hal seperti itu. Karna saat aku memulai berhijab, seperti itulah keadaanku.
Aku pribadi, mengenakan hijab justru semakin membuat hati ini nyaman. Beberapa waktu lalu sempat berbincang dengan kenalan baru
“Mbak sudah lama mengenakan hijab?”
“Alhamdulillah.. ini sudah berjalan 2 tahun lebih”
“Sudah mengenakan syar’I seperti ini?”
“Insya Allah akan lebih syar’I dari ini”
“Saya masih proses nih, Mbak, untuk syar’I”
“Dulu, awal saya berhijab, saya masih pakai jeans. Tapi setelah tahu pakaian muslimah yaa seperti ini, saya ganti. Prosesnya itu bukan pada hari atau menunggu hidayah. Tapi dari kepahaman.”
“Waduh! Saya harus nabung untuk beli rok atau gamis, nih.”
“Untuk taat memang ada pengorbanannya. Tapi sesuai lah dengan kepuasan batin saat menjalankan taat.”
“Bener mbak. Saya berhijab juga atas kesadaran diri.”
“Dilanjut kesadaran ilmu, ya mbak. Hehehe.”
Memang sudah seharusnya wanita berhijab tidak hanya tahu cara menutup aurat. Tapi sudah harus paham bagaimana menutup aurat dengan benar. Sadar bahwa jilbab harus menutup dada. Sadar bahwa mengenakan pakaian dilarang yang ketat dan tembus pandang. Dan tahu bahwa kaki adalah aurat yang juga harus ditutup.
Ada yang bilang, berhijab bener tapi kalau akhlaqnya jelek, sama aja bohong!
Benar! Seakan “lebih baik tak berhijab” daripada mencoreng hijabnya. Karna seharusnya, dengan hijab dapat membuat akhlaq diri semakin baik. Menelaudani para muslimah yang taat.
Saya pun begitu. Tapi dengan mencari tahu, sedikit demi sedikit, dengan kepahaman saya mengenai akhlaq muslimah, sifat emosi sudah mulai hilang. Suara saat berbicara sebelumnya tinggi, kini sudah rendah. Dulu bertutur kata masih buruk, kini sudah diperbaiki. Dulu belum bisa menjaga pandangan, kini dibiasakan menunduk melihat pada yang bukan mahram. Dulu berperilaku kekanakkan, kini sudah menjaga sikap bahwa muslimah harus terlihat anggun.
Semua ini bukan dibuat-buat. Atau berkepribadian ganda.
Semua ini karna taat. Paham bahwa wanita adalah mulia, maka harus dijaga dengan baik “kemuliaan” tersebut. Yaitu dengan akhlaq. Diri yang telah diubah dengan pakaian muslimah, tentu ada baiknya mengubah akhlaq dengan akhlaq muslimah. Taat.
Sungguh bila melakukan sesuatu karna taat pada Allah swt, dengan ketulusan dan keikhlasan, diri dan iman akan membawa pada ilmu yang bertambah manfaat.
“Ya Allah, Nanti aja deh berhijabnya! Hati belom siap! Kelakuan masih bejat!”
“Kalau begitu, ‘nanti’ saja Aku berikan rejeki kepada mu kalau kamu sudah siap. Aku tunda dulu rejeki mu kalau kamu masih bejat.”
Tapi apa? Allah senantiasa memberikanmu rejeki-Nya, kan? Allah memberikan rejeki pada tiap hamba-Nya tanpa keraguan. Lalu mengapa manusia bisa meragukan Allah dalam taat?
Keputusan untuk berhijab bukan suatu hal yang bisa dimainkan. Atau karna hati yang belum siap. Saat Allah memberikan aturan bahwa seluruh wanita wajib menutup auratnya pada yang bukan mahram, tidak ada nanti, tidak ada tapi.
Comments
Post a Comment