Skip to main content

Pintar Kaya - Bodoh Miskin

Manusia memiliki sifat egois. Ingin menang sendiri.. Ingin lebih unggul. Derajat harus tinggi.
Blablablabla...

Bila melihat orang-orang yang seperti itu, saya hanya dapat tertawa miris.
Kasihan hidup mereka.. Berlomba untuk cara yang salah.

Semua sifat itu memang manusiawi. Tapi tidak kah sadar bahwa itu pengaruh yang buruk untuk diri?

Bila tidak puas atas hasil yang diinginkan, bukankah akan kecewa?
Sebelum itu terjadi, maka terapkan diri untuk bersikap adil, bijaksana, dan sederhana.

Orang selalu memandang rendah terhadap saya.
Tapi saya tidak mempermasalahkan. Saya tidak ingin mereka menghormati ku. Dan saya memilih untuk tetap dipandang seperti yang mereka lihat pada diri saya.
Miskin dan tidak pintar.
It's okay. Better than they pretend to honor. Tidak semua manusia memiliki satu wajah. Termasuk, saya.

Sikap diam saya pada setiap ucapan, maupun pandangan mereka yang menilai saya rendah, justru membuat saya semakin gigih untuk menjadi lebih baik dari mereka. Saya memang sedih. Tapi tidak akan berlarut dalam kesedihan. 
Karna, saya memiliki uang dari hasil kerja keras saya. Bukan dengan meminta. Saya makan dengan kedua tangan saya, bukan dari tangan mereka. Dan saya berlindung kepada Allah, bukan pada mereka. 
Jadi tidaklah mungkin, saya menghormati mereka (orang-orang sombong) atas gelar dan derajat tinggi yang mereka miliki. Rendah, bukan berarti rendahan. Tak pelajar, bukan berarti tak terdidik. Kalimat ini yang selalu saya terapkan dalam diri.

Bukan berarti saya tidak sakit hati diperlakukan seperti itu oleh mereka yang seakan lebih tinggi derajatnya. Saya manusia. Saya bisa tertawa. Saya bisa menangis. Saya pun bisa marah. Tapi saya masih bisa sabar. Karna dengan kesabaran ini, saya yakin, semua yang mereka anggap (dunia) lebih penting, tidak ada apa-apanya.


Akal. 
Allah memberikan akal kepada manusia untuk berpikir. Agar dapat mencari ilmu hingga tidak menjadi orang yang bodoh.
Maka saya gunakan akal pikiran saya dengan baik, benar, dan sehat. Saya tidak belajar disekolah, tapi ada lingkungan yang selalu menjadi pelajaran saya. 
Saya suka merasa cemas tiap kali melihat betapa sombongnya orang-orang yang memiliki gelar tinggi, seakan dirinya paling pintar. Dapatkah dia menjawab pertanyaan saya, "berapa lama kah maksud dari selamanya?" 
Semua manusia bisa pintar. Betapa luas lautan di dunia ini. Berapa banyak gunung yang ada di bumi? Siapa saja ilmuan dunia? Bila mencari ditiap sumber, pasti di dapat. Tapi semua manusia punya batas pengetahuan.
Apakah hanya dengan satu bidang yang membuat diri seseorang mendapatkan gelar tinggi, maka orang tersebut dapat dikategorikan, pintar? Dan memiliki derajat tinggi? Lebih baik dari yang lain?

Kenapa manusia tidak boleh sombong?

Karna setiap manusia dapat melakukan apapun yang ada di dunia ini. 
Alat canggih, buatan manusia, banyak.
Alat tradisional, buatan manusia, banyak.
Obat yang diracik di Rumah Sakit, diracik manusia.
Obat tradisional yang menjadi jamu, diracik manusia.
Robot buatan manusia.

Banyak hal yang dapat manusia lakukan. Jadi jangan pernah bangga akan diri yang baru hanya dapat menekuni beberapa bidang saja. 

Bangga lah atas apa yang dihasilkan. Bukan bangga lebih baik dari orang lain yang tidak sama dengan diri. Karna siapa tahu orang yang dikucilkan tersebut, jauh lebih baik daripada diri sendiri!


Derjat. 
Jangankan orang kaya yang memiliki rumah gedong, dan kendaraan banyak. Orang miskin, pun sudah bisa membedakan derajat. Miskin, ada yang lebih miskin, lalu sombong. Bukan begitu!!
Yang bikin saya bingung, tahu apa sih manusia tentang derajat? Sebegitu pentingkah derajat dibanding-bandingkan?
Lalu, yang miskin harus lebih hormat dan harus merendah, kepada orang kaya??
Bila orang kaya usianya lebih muda, lalu si miskin dengan usia yang sudah tua, si kaya harus mengangkat dagu, kemudian tidak masalah merendahkan si miskin?
Lalu dimana ajaran untuk saling menghormati yang sudah diterapkan sejak TK?


Jangan pernah bangga pada diri, bila hanya dunia saja yang dilakukan.
Pikirlah, untuk di akhirat, apa saja yang sudah dikumpulkan? Agar Allah bangga.

Apa untungnya lebih unggul dimata manusia? Karna di hormati? Merasa lebih baik??

Coba mementingkan agar Allah Ridha dengan yang dikerjakan di dunia. Yang didapati apa? Rejeki berkah. Makan halal dan kenyang. Amal terkumpul. Ibadah tak sia-sia.

Enakan yang mana? Pilih yang mana?

Ini, mengapa saya tidak begitu tertarik dengan gelar, kekayaan, maupun penghormatan dari orang-orang. Karna gunanya apa? Akal, Derajat tinggi, Harta melimpah, semua itu dapat musnah. Kelak saya meninggal, hanya nama saja yang masih ada di dunia ini. Itu pun ada pada batu nisan kuburan saya.
Manusia itu, ciptaan yang sempurna. Namun, dengan kesempurnaan tersebut, dapat membuat kelemahan dalam diri. 
Syirik, iri, sombong, kikir, su'udzon, dll yang buruk, ini bisa datang tatkala diri dipuji oleh orang lain.

Jadilah orang yang rakus akan ilmu. Karna ilmu mata pencarian yang berharga. 
Jangan haus akan berkilaunya dunia. Semua ini dapat binasah.

Dunia bisa berakhir. Tidak selamanya.
Akhirat tak bisa berakhir. Selamanya.
Selamanya itu, sampai kapan?
Pikirkan bila menjadi orang yang menjadi musuh Allah, maka tempat "selamanya" sudah dipastikan di Neraka. Lalu "selamanya" itu sampai kapan?

Gunakan mata untuk melihat kebaikan. Karna melihat keburukan, apalagi pada diri orang lain, tidak akan selesai. Karna diri sudah merasa bangga lebih baik dari orang lain.
Gunakan pikiran untuk berpikir positif. Karna bila terus memikirkan hal negatif, justru akan menjadi penyakit dalam hati.
Gunakan hati dengan bersih. Akan menjadikan diri sehat, bebas dari penyakit.

Selama masih sama-sama makan nasi, tidak ada perbedaan ditiap manusia. Jangan merasa diri lebih hebat. Ingat, ada Allah sang pencipta, yang lebih ber-hak menilai tiap derajat. Yang bukan derajat duniawi, tetapi derajat keimanannya hamba-Nya.

Jangan mendahulukan Allah yang Maha Tahu.

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Cinta Dalam Diam

Jemariku meraba ratusan buku yang berjejer pada raknya. Hatiku gundah, kali ini, ingin membaca kisah seperti apa? Sesuatu yang menyemangati, atau hal-hal yang terasa pilu di hati? Langkah ku melewati lebih dari 4 rak buku yang berdiri kokoh di dalam toko. Mataku melirik pada sebuah judul. Pada satu-satunya judul yang dapat menarik perhatianku. Ku baca perlahan prolog yang berada di sampul belakang, ku dalami setiap kalimat, dan ku pahami nyawa yang tertulis dalam cerita tersebut. Aku tertegun. "Ya Allah, apakah kisah ini sama-dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini padaku?" batinku berbisik. Aku terdiam beberapa menit dalam argumen dengan hatiku, apakah ada yang bisa aku petik dari kisah ini? Entah... Siapa yang akan tahu bagus atau tidaknya kisah ini? Dan mana bisa diketahui seberapa banyak penggalan cerita ini yang dapat dipetik, bila belum terjamah untuk membacanya? Lama aku tertegun dalam diam sambil menatap lekat buku ini. "A, apakah k...

Aku Dan Pilu

Sudah hampir satu bulan ini hatiku dirundung pilu dan gelisah. Banyak sekali hal yang ku pikirkan. Dan kerinduan yang membendung besar. Dimulai dari kemo mamah yang ke empat ditanggal 12 Septermber 2018, setelah masa kemo beberapa hari, mamah lebih sering terlihat murung. Beliau bukan type orang yang mudah menceritakan apa yang dirasakannya, jadi aku tak tahu apa yang terjadi. Jangan tanyakan kenapa aku tidak bertanya saja? Sudah. Jawab beliau “Nggak’ apa-apa” . Sesingkat itu memang wanita untuk menjawab pertanyaan. Murungnya mamah bukan dikurun waktu yang sebentar, namun beberapa minggu bahkan menjelang kemo nya yang ke lima. Berulang kali ku ingatkan, untuk menjaga kesehatannya agar jangan sampai kejadian sebelum kemo ke empat, terulang lagi. Hari itu, selasa 10 Septermber 2018, aku mendaftarkan kemo mamah yang ke empat, juga meminta jadwal kemo yang ke lima. Hancur hati ini manakala dokter mengatakan, “Leukosit ibunya rendah, harus disuntik obat. Tapi persediaan disini seda...

Kartini

Selamat Hari Kartini untuk perempuan Indonesia. Semoga, semakin bertambah perempuan yang dapat mengharumkan Agama, Negara, dan Keluarga. Di zaman dahulu, hampir seluruh perempuan menjadi "paksaan" dalam bekerja, maupun untuk lelaki. Namun kini berbalik. Kini sudah banyak perempuan yang sukses dalam bidang pendidikan, dan usaha. Sudah tak terhitung, kini perempuan lebih berhasil. Ini peningkatan. Namun, tak juga menurun tingkat perempuan yang menjual kehormatannya, demi keberhasilan hidup mewah. Lokalisasi tiap daerah masih banyak. Sebagai perempuan, baiknya menerapkan seperti yang telah tercipta pada dirinya: Mulia. Perempuan itu, cenderung dengan Cantik dan Bersih. Maka cantikanlah hati, dan bersihkanlah iman. Agar dapat memberikan energi positif. Terutama dalam lingkungan, perempuan sangat berpengaruh. Karna perempuan cenderung dengan bersih. Untuk perempuan, mari bersihkan iman dengan juga membersihkan lingkungan. Ka...