Manusia memiliki sifat egois. Ingin menang sendiri.. Ingin lebih unggul. Derajat harus tinggi.
Blablablabla...
Bila melihat orang-orang yang seperti itu, saya hanya dapat tertawa miris.
Kasihan hidup mereka.. Berlomba untuk cara yang salah.
Semua sifat itu memang manusiawi. Tapi tidak kah sadar bahwa itu pengaruh yang buruk untuk diri?
Bila tidak puas atas hasil yang diinginkan, bukankah akan kecewa?
Sebelum itu terjadi, maka terapkan diri untuk bersikap adil, bijaksana, dan sederhana.
Orang selalu memandang rendah terhadap saya.
Tapi saya tidak mempermasalahkan. Saya tidak ingin mereka menghormati ku. Dan saya memilih untuk tetap dipandang seperti yang mereka lihat pada diri saya.
Miskin dan tidak pintar.
It's okay. Better than they pretend to honor. Tidak semua manusia memiliki satu wajah. Termasuk, saya.
Sikap diam saya pada setiap ucapan, maupun pandangan mereka yang menilai saya rendah, justru membuat saya semakin gigih untuk menjadi lebih baik dari mereka. Saya memang sedih. Tapi tidak akan berlarut dalam kesedihan.
Karna, saya memiliki uang dari hasil kerja keras saya. Bukan dengan meminta. Saya makan dengan kedua tangan saya, bukan dari tangan mereka. Dan saya berlindung kepada Allah, bukan pada mereka.
Jadi tidaklah mungkin, saya menghormati mereka (orang-orang sombong) atas gelar dan derajat tinggi yang mereka miliki. Rendah, bukan berarti rendahan. Tak pelajar, bukan berarti tak terdidik. Kalimat ini yang selalu saya terapkan dalam diri.
Bukan berarti saya tidak sakit hati diperlakukan seperti itu oleh mereka yang seakan lebih tinggi derajatnya. Saya manusia. Saya bisa tertawa. Saya bisa menangis. Saya pun bisa marah. Tapi saya masih bisa sabar. Karna dengan kesabaran ini, saya yakin, semua yang mereka anggap (dunia) lebih penting, tidak ada apa-apanya.
Akal.
Allah memberikan akal kepada manusia untuk berpikir. Agar dapat mencari ilmu hingga tidak menjadi orang yang bodoh.
Maka saya gunakan akal pikiran saya dengan baik, benar, dan sehat. Saya tidak belajar disekolah, tapi ada lingkungan yang selalu menjadi pelajaran saya.
Saya suka merasa cemas tiap kali melihat betapa sombongnya orang-orang yang memiliki gelar tinggi, seakan dirinya paling pintar. Dapatkah dia menjawab pertanyaan saya, "berapa lama kah maksud dari selamanya?"
Semua manusia bisa pintar. Betapa luas lautan di dunia ini. Berapa banyak gunung yang ada di bumi? Siapa saja ilmuan dunia? Bila mencari ditiap sumber, pasti di dapat. Tapi semua manusia punya batas pengetahuan.
Apakah hanya dengan satu bidang yang membuat diri seseorang mendapatkan gelar tinggi, maka orang tersebut dapat dikategorikan, pintar? Dan memiliki derajat tinggi? Lebih baik dari yang lain?
Kenapa manusia tidak boleh sombong?
Karna setiap manusia dapat melakukan apapun yang ada di dunia ini.
Alat canggih, buatan manusia, banyak.
Alat tradisional, buatan manusia, banyak.
Obat yang diracik di Rumah Sakit, diracik manusia.
Obat tradisional yang menjadi jamu, diracik manusia.
Robot buatan manusia.
Banyak hal yang dapat manusia lakukan. Jadi jangan pernah bangga akan diri yang baru hanya dapat menekuni beberapa bidang saja.
Bangga lah atas apa yang dihasilkan. Bukan bangga lebih baik dari orang lain yang tidak sama dengan diri. Karna siapa tahu orang yang dikucilkan tersebut, jauh lebih baik daripada diri sendiri!
Derjat.
Jangankan orang kaya yang memiliki rumah gedong, dan kendaraan banyak. Orang miskin, pun sudah bisa membedakan derajat. Miskin, ada yang lebih miskin, lalu sombong. Bukan begitu!!
Yang bikin saya bingung, tahu apa sih manusia tentang derajat? Sebegitu pentingkah derajat dibanding-bandingkan?
Lalu, yang miskin harus lebih hormat dan harus merendah, kepada orang kaya??
Bila orang kaya usianya lebih muda, lalu si miskin dengan usia yang sudah tua, si kaya harus mengangkat dagu, kemudian tidak masalah merendahkan si miskin?
Lalu dimana ajaran untuk saling menghormati yang sudah diterapkan sejak TK?
Jangan pernah bangga pada diri, bila hanya dunia saja yang dilakukan.
Pikirlah, untuk di akhirat, apa saja yang sudah dikumpulkan? Agar Allah bangga.
Apa untungnya lebih unggul dimata manusia? Karna di hormati? Merasa lebih baik??
Coba mementingkan agar Allah Ridha dengan yang dikerjakan di dunia. Yang didapati apa? Rejeki berkah. Makan halal dan kenyang. Amal terkumpul. Ibadah tak sia-sia.
Enakan yang mana? Pilih yang mana?
Ini, mengapa saya tidak begitu tertarik dengan gelar, kekayaan, maupun penghormatan dari orang-orang. Karna gunanya apa? Akal, Derajat tinggi, Harta melimpah, semua itu dapat musnah. Kelak saya meninggal, hanya nama saja yang masih ada di dunia ini. Itu pun ada pada batu nisan kuburan saya.
Manusia itu, ciptaan yang sempurna. Namun, dengan kesempurnaan tersebut, dapat membuat kelemahan dalam diri.
Syirik, iri, sombong, kikir, su'udzon, dll yang buruk, ini bisa datang tatkala diri dipuji oleh orang lain.
Jadilah orang yang rakus akan ilmu. Karna ilmu mata pencarian yang berharga.
Jangan haus akan berkilaunya dunia. Semua ini dapat binasah.
Dunia bisa berakhir. Tidak selamanya.
Akhirat tak bisa berakhir. Selamanya.
Selamanya itu, sampai kapan?
Pikirkan bila menjadi orang yang menjadi musuh Allah, maka tempat "selamanya" sudah dipastikan di Neraka. Lalu "selamanya" itu sampai kapan?
Gunakan mata untuk melihat kebaikan. Karna melihat keburukan, apalagi pada diri orang lain, tidak akan selesai. Karna diri sudah merasa bangga lebih baik dari orang lain.
Gunakan pikiran untuk berpikir positif. Karna bila terus memikirkan hal negatif, justru akan menjadi penyakit dalam hati.
Gunakan hati dengan bersih. Akan menjadikan diri sehat, bebas dari penyakit.
Selama masih sama-sama makan nasi, tidak ada perbedaan ditiap manusia. Jangan merasa diri lebih hebat. Ingat, ada Allah sang pencipta, yang lebih ber-hak menilai tiap derajat. Yang bukan derajat duniawi, tetapi derajat keimanannya hamba-Nya.
Jangan mendahulukan Allah yang Maha Tahu.
Comments
Post a Comment