Skip to main content

Attitude

Berita saat ini mulai marak dengan kekerasan dalam (sesama) pergaulan.
Sudah banyak kabar mengenai saling menyakiti antar teman. Namun, yang paling naas saat dibaca; mereka yang saling melakukan kekerasan bukanlah sesama orang dewasa, melainkan anak-anak!
MIRIS! Melihat perkembangan mental dan sosial dikalangan anak-anak sudah sangat menurun.

Masalah bukan pada diri anak tersebut. Melainkan, "hal" yang telah ia contoh.
Orangtua tentu berperan penting sekali mengenalkan dan mengajarkan attitude dalam pergaulan.

Ada orangtua yang memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk mencoba hal-hal dalam dunia; lingkungan bergaul. Mempersilahkan anak terjun dalam hal-hal baru di dunia nya, banyak positif yang didapat. Tapi tentu orangtua sangat harus mengarahkan anak untuk dapat memilih kawan dalam lingkungannya. Bukan dengan cara menghasut bahwa salah satu temannya "nakal". tapi, diarahkan bahwa kekerasan dalam berkawan, itu tidaklah patut dicontoh maupun dijadikan teman.
Orangtua harus mengenali tiap teman dari anaknya. Mulai dari cara berbicara dan sikap, orangtua harus mendampingi.
Bukan lagi "dia sudah besar, tak perlu pengawasan". Berapapun usia sang anak, sebagai orangtua masih harus mendampingi, mengarahkan dan mendidik. Hal ini sangat penting.

Ada pun orangtua yang sangat mengekang anak-anak mereka untuk tidak bermain dengan teman sebaya. Membiarkan anak betah dirumah, bukanlah dengan memberikan gadget agar anak tidak bermain diluar dan anteng diam dirumah. Bukan dengan cara seperti ini. Memberikan kenyamanan pada anak agar betah dirumah, sebagai orangtua peran mendampingi (walau dirumah) harus tetap ada. Memasak makanan atau kue kesukaan anak, bisa menjadi pilihan baik. Dengan itu juga, anak mudah untuk didekati. Ajak anak untuk belajar dalam permainan. Saat ini sudah banyak sekali buku bacaan, ataupun mainan (seperti lego) yang dapat mengembangkan otak anak menjadi kreatif. Jadi tidak membiarkan anak anteng dirumah dengan hal yang tidak bisa membuatnya apa-apa. Orangtua pun akan lebih mudah mengenal dan membimbing karakter anak.

Hal kedua ini masih bisa ditoleransi. Banyak cara untuk orangtua mendidik anak dalam pergaulan mereka.

Namun, bila kekerasan dalam lingkungan dengan yang melakukan adalah anak yang masih dibawah umur, tentu saja ini harus menjadi peringatan. Jadi sekali lagi, peranan orangtua sangatlah dibutuhkan.


Dalam berbicara, orangtua harus memberikan contoh suara dan ucapan yang sopan juga lemah lembut. Tegas pada saat memberi nasehat. Namun penuh kasih sayang tiap kali mengajak bicara (sharing).

Bagiamanapun anak bisa nakal adalah fitrah mereka. Karna dengan kesalahan yang mereka lakukan, disitulah mereka berkembang. Dan disitu pula orangtua masuk untuk memberikan mereka pengetahuan baru, agar mereka paham atas kesalahan yang diperbuat.
Bukan dengan cara membentak, memaki, juga menyakiti (ringan tangan), untuk memberikan anak hukuman atas tiap kesalahan. Bisa jadi dari sinilah anak mengetahui kekerasan, sehingga ia dapat menirukan pada teman-temannya apa yang ia alami.

Media. Cari dan pilih lah tontonan yang bermanfaat untuk diterapkan pada anak. Dengan mengajak anak menonton tv bersama, dapat dengan mudah memberikan mereka imajinasi yang positif. Tapi tentu sebelum mengajak, orangtua harus tahu lebih dulu film apa yang akan ditayangkan. Ingat, bukan sinetron, ya!
Musik. Berikan anak pendengaran yang baik. Dengan mendengarkan musik yang pantas dengan usianya, akan membuat anak rileks dan mendorong kreatifitasnya. Lagu religi, adalah pilihan terbaik. Agar anak dapat melantunkan kata-kata yang baik didalam lirik lagu tersebut. Mohon untuk tidak membebaskan pendengaran mereka dengan lagu-lagu yang tidak seusianya.

Sering ajak anak berpergian ke tempat yang dapat menambahkan ilmu untuknya, ini baik untuk perkembangan sosialnya. Dimana ia akan bertemu dengan banyak orang yang tidak dikenal.

Mari sama-sama mendidik anak dalam pergaulan yang baik dan benar. Dengan dimulai mengenal attitude. Berbicara. Bersikap. Dan berosial.
Anak adalah generasi yang akan menerusi nama baik agama, keluarga, dan negara nya.

                                          

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Cinta Dalam Diam

Jemariku meraba ratusan buku yang berjejer pada raknya. Hatiku gundah, kali ini, ingin membaca kisah seperti apa? Sesuatu yang menyemangati, atau hal-hal yang terasa pilu di hati? Langkah ku melewati lebih dari 4 rak buku yang berdiri kokoh di dalam toko. Mataku melirik pada sebuah judul. Pada satu-satunya judul yang dapat menarik perhatianku. Ku baca perlahan prolog yang berada di sampul belakang, ku dalami setiap kalimat, dan ku pahami nyawa yang tertulis dalam cerita tersebut. Aku tertegun. "Ya Allah, apakah kisah ini sama-dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini padaku?" batinku berbisik. Aku terdiam beberapa menit dalam argumen dengan hatiku, apakah ada yang bisa aku petik dari kisah ini? Entah... Siapa yang akan tahu bagus atau tidaknya kisah ini? Dan mana bisa diketahui seberapa banyak penggalan cerita ini yang dapat dipetik, bila belum terjamah untuk membacanya? Lama aku tertegun dalam diam sambil menatap lekat buku ini. "A, apakah k...

Aku Dan Pilu

Sudah hampir satu bulan ini hatiku dirundung pilu dan gelisah. Banyak sekali hal yang ku pikirkan. Dan kerinduan yang membendung besar. Dimulai dari kemo mamah yang ke empat ditanggal 12 Septermber 2018, setelah masa kemo beberapa hari, mamah lebih sering terlihat murung. Beliau bukan type orang yang mudah menceritakan apa yang dirasakannya, jadi aku tak tahu apa yang terjadi. Jangan tanyakan kenapa aku tidak bertanya saja? Sudah. Jawab beliau “Nggak’ apa-apa” . Sesingkat itu memang wanita untuk menjawab pertanyaan. Murungnya mamah bukan dikurun waktu yang sebentar, namun beberapa minggu bahkan menjelang kemo nya yang ke lima. Berulang kali ku ingatkan, untuk menjaga kesehatannya agar jangan sampai kejadian sebelum kemo ke empat, terulang lagi. Hari itu, selasa 10 Septermber 2018, aku mendaftarkan kemo mamah yang ke empat, juga meminta jadwal kemo yang ke lima. Hancur hati ini manakala dokter mengatakan, “Leukosit ibunya rendah, harus disuntik obat. Tapi persediaan disini seda...

Always Next To You

Ini terlalu gila bila diberitahukan yang sebenarnya. Cinta yang berlebihan, yang bahkan tak ada satupun yang dapat mengerti akan cinta ini. Bahkan kau, si pemeran utama dalam cinta ini tak pernah tahu apapun. Aku memendam semua bagaikan sebuah surat yang tak pernah terkirim. Memberitahukan semua padamu mu pun terasa percuma. Ini tidak akan pernah mungkin. Seperti tak akan sanggup bila bertemu denganmu. Orang yang telah lama ada dalam cinta. Dan tak akan percaya bila selama ini aku telah merasakan cinta pada orang seperti mu. Orang akan selalu mengatakan aku gila, ini semua konyol. Tak'kan ada satupun yang percaya. Aku pun sebenarnya tak pernah percaya akan sejauh ini dalamnya cinta. Tapi ini bukan rekayasa yang ku buat. Ingin meminta pada Tuhan, agar cinta ini tak hanya tersurat. Meminta kau membalas semua kekonyolan ini. Agar semua orang tak lagi menertawai aku layaknya aku seperti orang gila. Tapi apakah mungkin? Keberadaan yang jauh, hal-hal yang tak mungkin di...