Banjir.
Setiap musim hujan tiba, hal yang pertama dalam benak saya "wah sebentar lagi banjir datang". Dan ini berlangsung setiap tahun.
Bila melihat keindahan Ibu Kota, Jakarta. Maupun kota lainnya, sudah begitu banyak sekali hal yang menakjubkan mata ada di tiap daerah atau kota-kota terkenal. Khususnya JADEBOTABEK.
- Mall, tempat ini bahkan sudah tidak bisa dihitung dengan jari berapa banyaknya Mall di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Ada yang berdekatan, ada pula yang berhadapan.
- Gedung tinggi, tempat ini pun sudah menjamur di kawasan Jakarta dan sekitarnya.
- Perumahan, yang ini nih sampe dinamai Recidence. Bertambahnya penduduk, bertambah pula tempat tinggal yang dibutuhkan.
- Sarana pendidikan. Tempat ini seharusnya lebih dibanyaki. Bukan mall.
- Tempat hiburan! Di Jakarta tentu banyak tempat hiburan, mulai dari Dufan, Ancol, TMII, Kota Tua, Lokalisasi #eh Dan masih banyak lagi. (sejujurnya tempat wisata yang saya singgahi hanyalah Kota Tua. Sisanya saya nggak tahu apa aja tempat hiburan di Jakarta).
Lalu apalagi?
Tak hanya hal yang menakjubkan, Jakarta dan sekitarnya juga memiliki kawasan yang.....
- Pasar, bila sudah berbicara mengenai pasar, yang ada dalam pikiran dikala musim hujan seperti ini adalah, tanah! becek! kotor! Nggak banget!
Aaah nggak juga ko, ada pasar yang sudah bagus persis swalayan. Eits, ada berapa banyak?
- Pertokoan, maraknya pendatang baru dari luar kota, membuat pertokoan pun menjalar dimana-mana.
Aiiihh, masih ada lagi kah?
- Kendaraan umum maupun pribadi. Masya Allah..... Melihatnya saja sudah tak sanggup apalagi harus dihitung! Bila satu keluarga ada delapan anggota, maka delapan pula kendaraannya. Nah lho! Kalau angkutan umum? Nggak usah ditanya, saya nggak sanggup jawaaab!!
Dari semua itu, apa yang kurang dari Jadebotabek??
TEMPAT SAMPAH!
Ini yang kurang banyak.
Memang betul semua diawali dari diri kita masing-masing. Buang lah sampah pada tempat sampah! Sejak TK pun semua orang sudah diajarkan.
Lalu kenapa diri ini masih saja tidak disiplin?
Saya punya sebuah cerita pendek.
Kala itu saya sedang menunggu teman. Saya berdiri didepan pintu masuk/keluar stasiun Jakarta Kota. Dari jauh sebrang sana, ada seorang perempuan (WNA) yang sedang memperhatikan sekitarnya. Dia menengok kanan dan kiri, seperti mencari sesuatu. Mungkin yang dicarinya tak ada, akhirnya perempuan itu menyebrang, lalu berjalan kearah tempat saya. Perempuan itu masuk kedalam Stasiun. Bukan untuk membeli tiket KRL, bukan juga akan menjemput rekannya. Lalu untuk apa?
Perempuan itu masuk kedalam stasiun hanya untuk membuang sampah! Kemudian dia kembali menyebrang, ketempatnya semula, dan naik angkot.
GLEK!
Saya yang melihat secara langsung seperti tertembak tombak penjajahan.
Hanya untuk membuang sebuah botol minum, ia rela berjalan jauh, menyebrang, lalu kembali pada tempatnya! Hanya untuk membuang sampah pada tempat sampah!
Well, kalau penduduk asli sih, buang aja dibelakang. Kan ada pembersih lingkungan ya? Botol pula, pemulung nanti pasti ambil. Ya kan? Hehehe...
Hal seperti ini. Kenapa sangat tidak ada dalam diri?
Waktu saya mengikuti acara ice cream massal, yang saya keluhkan adalah mereka yang membuang sampah sembarangan! Begitu juga pada acara-acara yang diselenggarakan di Jakarta!
Entah tempat sampah yang tidak ada, atau tidak tergeraknya hati mereka untuk kebersihan lingkungan bersama! Yang pasti, satu membuang sampah sembarangan, maka ada seratus orang yang mengikutinya.
Hari ini, Senin 09 Februari 2015. Jadebotabek diguyur hujan sejak minggu sore. Banjir dimana-mana. Jalanan lumpuh, semua tergenang air. Lalu?
Pernah kah berpikir, air banjir itu datangnya darimana sih?
Dari sungai, lalu ke kali, kemudian air got, dan air semua itu merendam sampah, kotoran tinja, kemudian menempel pada badan anak-anak yang bermain banjir, badan kita sendiri juga! Oh No! Nggak mau.......
Setiap saya menonton berita, ada wartawan yang sedang melaporkan tempat kejadian banjir (TKB), dibelakang wartawan tersebut, ada beberapa anak kecil dengan riang berenang dengan air coklat tersebut. Kemana ibunya? Nggak usah dibahas!
Lalu saat wartawan tersebut bertanya, "apa bapak tidak ingin meninggalkan tempat ini?"
Jawaban si bapak hanya santai sambil nyengir "aah warga disini sudah terbiasa dengan langganan banjir"
Ampun paaak >.<
Mari kita pikirkan dampak bahaya banjir.
Kesehatan.
Diare, demam, Batuk Flu, Korengan, ini bisa terjadi karna banjir. Tidak hanya menggandrungi anak-anak saja namun juga orang dewasa, ibu hamil, ibu menyusui, dan juga lanjut usia.
Kurangnya kebersihan
Bila sudah terendam banjir, akan sulit ditemukan air bersih. Makanan bersih. Lalu bagaimana untuk makan, minum, mandi dsb?
Kematian.
Ini yang jangan sampai terjadi. Dari kurangnya kebersihan, dan kesehatan yang buruk, angka kematian akibat banjir juga banyak. Pada tahun 2014 dilangsir dari megapolitan.kompas, angka kematian yang disebabkan banjir berkisar 23 jiwa.
Banjir.
Yang sangat saya sayangkan dari banjir ini adalah minimnya kepedulian orang-orang akan kebersihan lingkungan. Banyak dari mereka yang tidak hanya membuang sampah sembarangan, namun juga membuang kotoran tinja mereka sendiri disembarang tempat.
Kita kembalikan lagi pada pemerintah Kota dan pemerintah lingkungan, meminta agar diperbanyak lagi tempat sampah.
Dan mari disiplinkan kembali warga Jakarta dan sekitarnya, diri kita ini, untuk tidak hanya menyayangi diri sendiri dengan lingkungan, tapi juga untuk menyayangi orang lain. Terutama, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan lanjut usia.
Bila menunggu pemerintah kota maupun lingkungan, entah kapan akan terselesaikan.
Sudahlah lebih baik digerakkan mulai dari diri kita masing-masing.
Stop membuang sampah sembarangan!
Bila ada yang membuang sampah tidak pada tempatnya, maka tegur dan ajak untuk membuang sampah ditempat sampah yang sudah disediakan. Bila jauh dari tempat sampai, bawalah sampah tersebut hingga menemukan tempat sampah!
Mari benahi lingkungan dimulai dengan membenahi diri.
Dan mari kita berdoa bersama agar banjir ini cepat teratasi. Jauh dari penyakit berbahaya maupun korban jiwa.
Hujan deras hari ini sejak malam tadi telah lumpuhkan banyak jalan, terutama di Jakarta.
Hujan membawa banjir, membawa kemacetan, membuat banyak orang kehujan.
Namun, masih banyak kah yang beranggapan bahwa hujan membawa berkah?
Dengan hujan, beberapa aktivitas terhenti. Disitulah Allah memberikan banyak waktu untuk beribadah.
Yang berdagang biasanya sedang banyak melayani pembeli. Dengan hujan, diberi waktu. Maka luangkanlah waktu dgn berdzikir dan membaca Al-Qur'an
Yang berkerja dikantor, sudah telat. Daripada berdumel memaki hujan, lebih baik perbanyak dzikir. Insya Allah dipermudah dalam pekerjaan.
Memang rezki materi dikurangkan, namun bila menggunakan waktu dari hujan ini dengan memuji Allah, Insya Allah pahala ditambahkan.
Perbanyak ibadah, dzikir kepada Allah, meminta agar senantiasa dilindungi dari segala musibah bencana apapun
Innalillaahi wa inna ilayhi raaji’uun atau (“Kita ini milik Allah, dan kepada-Nya kita kembali”)

Comments
Post a Comment