Bismillah..
Siang ini adalah kesekian kalinya saya ditegur dan diberi saran mengenai hijab yang saya kenakan.
Hijab saya ini masih jauh dari kata Syar'i. Hanya menutup dada hingga perut. Tidak saya tekuk ataupun berbayang. Tapi yang seperti ini menuai hujatan dari beberapa orang disekitar saya. Terutama ibu saya.
Beliau memang belum berhijab seperti saya. Dan ada suatu hari saya meminta izin untuk mengenakan hijab Syar'i yang sampai ujung jari tengah saya panjang dari hijab tersebut. Menuai protes dari ibu saya yang mengatakan bahwa memakai hijab seperti tidaklah pantas saya kenakan.
Hati saya sangat sedih. Kenapa ketaatan saya kepada Allah Swt ini harus mendapat ketidak setujuan ibu saya? Akhirnya sejak satu bulan sebelum datangnya Ramadhan 1435H, hingga saat ini saya hanya mengenakan hijab yang panjangnya hanya sampai perut saya. Dan memutuskan untuk memakai gamis sebagai penutup tubuh saya.
Awal mula saya mengenakan hijab ditahun 2013 saat saya mendapat pekerjaan yang mengharuskan saya mengenakan hijab. Wah saya pikir ini adalah sebuah hidayah dari Allah Swt, dan juga terkabulnya do'a saya selama ini. Akhirnya saya berhijab saat itu juga tanpa saya buka lagi.
Mulanya saya hanya beranggapan bahwa hijab ini adalah jawaban saya dari Allah. Namun saat terus mengenakan hijab ini, semua anggapan saya salah. Saya telah membaca, dan melihat beberapa tausiyah Islami, yang didalam tausiyah tersebut mengenai hijab dan tata cara penggunaan hijab sesuai perintah Allah Swt.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an
- Hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikit pun, selain yang dikecualikan karena Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak.” (An-Nuur: 31)
- Allah Subhannahu wa Ta’ala,“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Al Ahzab :59).
"Bahasan apa ini? Kenapa saya baru tahu tentang aturan menutup aurat?"
Akhirnya sejak saat itu saya yakinkan dalam hati saya, bahwa hijab yang saya kenakan ini tidaklah hanya sebuah identitas saya yang adalah seorang muslim. Namun juga untuk ketaatan saya kepada Allah. Dan saat itu juga saya membuang semua celana jeans saya. Yang akhirnya saya mencicil untuk mengumpulkan gamis, hingga sampai saat ini saya pakai. Alhamdulillah.. Hidayah Allah datang begitu cepat.
Namun ada saja orang menjengkelkan mengatakan saya seperti ibu-ibu. Tidak pantas memakai gamis dan hijab panjang. Belum saatnya mengenakan pakaian dan hijab seperti ini karna saya masih muda.
Astaghfirullah...
Apa yang salah dengan yang saya kenakan?
Dulu saat saya masih mengenakan jeans dan atasan, juga hijab yang masih pendek, itu karna saya masih belum paham tentang syariat pakaian muslimah. Saya akui sebelumnya saya seperti itu.
Tapi apalah daya saya yang hanya manusia biasa, tak bisa membuat peraturan karna saya hanyalah ciptaan, tidak bisa mengubah ketentuan Allah dengan perintah-Nya.
Jadi apapun yang saya kenakan saat ini, bukanlah untuk diperhatikan, untuk dilihat enak, atau pun untuk fashionnable semata. Ini adalah tanggungjawab saya sebagai umat muslim.
Saya tidak bisa mengenakan Fashionnable seperti yang sudah banyak saat ini, untuk penutup aurat saya.
Bisa saja saya mengikuti fashion dan terlihat modis, tapi saya sangat takut dengan mata Allah yang tak lepas melihat saya.
Karna saya sudah paham, maka saya seperti ini.
Sampai ada yang mengatakan, dengan gamis dan hijab saya seperti ini, akan sulit untuk saya menemukan jodoh.
Astaghfirullah...
Siapa yang tahu tentang jodoh selain Allah? Saya tidak peduli akan sulit mendapatkan pasangan, apalagi dengan lelaki yang saya suka, hanya karna gamis dan hijab saya.
Karna bagi saya, penutup aurat saya ini juga untuk suami saya kelak. Dengan saya taat kepada Allah memperlihatkan pada calon suami saya, bahwa saya sudah siap untuk taat kepada suami dalam pernikahan kami nanti.
- Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)
Dari sini saya berpikir, jika saya ingin taat kepada suami, maka saya harus lebih dulu taat kepada Allah. Yang nantinya adalah ketaatan saya kepada suami, telah menjadikan saya taat kepada Allah. Amin. Yang saya mulai dari berhijab dan gamis ini.
Dan bagi saya, lelaki yang baik dan benar tidak akan memandang calon istrinya dari penampilan. Apalagi saya yang memakai gamis. Karna lelaki yang beriman, pasti mencari calon istri yang taat kepada Allah Swt.
Jadi sampai kapan pun, saya tidak akan mengubah pendirian saya untuk terus mengenakan gamis, dan hijab. Namun akan saya ubah, bila Allah telah mengubah peraturan ini. Intinya, apa yang telah Allah katakan, maka saya akan berusaha menjalankan perintah-Nya.
Yang juga saya harap di kemudian hari suami saya mengijinkan saya untuk mengenakan hijab Syar'i seperti keinginan saya.
Hijab ku, memang tidak fashionnable. Pakaian ku juga tidak fashinnable..
Tapi Allah perintahkan tak perlu mengikuti suatu kaum jahiliah.
Sudah cukup bagiku hanya Allah dan suami ku (kelak) yang melihat ku dengan penuh perhatian.


Comments
Post a Comment