Kita sering berjumpa lalu berpisah.
Selalu ada rasa sedih, tak tenang, dan takut, saat kata "hati-hati dijalan" akan terucap sebentar lagi.
Apakah waktu akan kembali mempertemukan kita?
Bila melihat sejauh ini, sudah sering kita bertemu.
Tapi rasa sesak, terus terasa dihujung perpisahan.
Bila saja jarak tak menghalangi, mungkin kata perpisahan tak begitu berarti.
Sesak pun tak pernah dirasa. Ketakutan pun apalah itu? Tak ada.
Dijauh sana, kenapa harus ada tebing begitu tinggi yang menyulitkan kami untuk menemuimu?
Ini masalah waktu, atau uang, yang tidak mudah bagi kami menjumpaimu?
Tidak bisakah kau yang datang kesini menemui kami? Bisakah kami egois dengan keadaan?
Tak ada sedikitpun kah rasa mu ingin tertawa bersama kami?
Semua dari kita memiliki kesibukan masing-masing.
Teman berbeda. Hal menyenangkan pun berbeda yg didapat.
Buka rasa iri karna saat tertawa dengan orang lain, aku tak bersama kalian.
Tapi, bisakah tawa kebersamaan kita lebih banyak dibanding pada yang lain?
Aku selalu mencemaskan hal ini saat datangnya rasa rindu.
Bagaimana bisa aku sendiri disini, sedangkan kalian adalah yang selalu ada untuk ku?
Rasa sakit ini pun datang kembali.
Ini berlebihan bila dipandang dengan kacamata manusia.
Persahabatan tak perlu sampai seperti ini. Ada yang mengatakan begitu.
Seakan tergores benda tajam, hatiku terluka saat menyadari bahwa, 'mungkinkah dikehidupan kami selanjutnya, kami masih dapat tertawa bersama?'
Maka....
Disisa waktu ku, aku ingin selalu ada untuk kalian.
Disisa waktu ku, aku ingin menjadi yang diandalkan.
Disisa waktu yg masih ku miliki, kalian tak kurang sedikitpun cinta dari ku.
Disisa waktu ini, aku berusaha menjadi sahabat terbaik untuk kalian.
Dan disisa waktu yang kita jalani, kita selalu bahagia.
Selalu ada rasa sedih, tak tenang, dan takut, saat kata "hati-hati dijalan" akan terucap sebentar lagi.
Apakah waktu akan kembali mempertemukan kita?
Bila melihat sejauh ini, sudah sering kita bertemu.
Tapi rasa sesak, terus terasa dihujung perpisahan.
Bila saja jarak tak menghalangi, mungkin kata perpisahan tak begitu berarti.
Sesak pun tak pernah dirasa. Ketakutan pun apalah itu? Tak ada.
Dijauh sana, kenapa harus ada tebing begitu tinggi yang menyulitkan kami untuk menemuimu?
Ini masalah waktu, atau uang, yang tidak mudah bagi kami menjumpaimu?
Tidak bisakah kau yang datang kesini menemui kami? Bisakah kami egois dengan keadaan?
Tak ada sedikitpun kah rasa mu ingin tertawa bersama kami?
Semua dari kita memiliki kesibukan masing-masing.
Teman berbeda. Hal menyenangkan pun berbeda yg didapat.
Buka rasa iri karna saat tertawa dengan orang lain, aku tak bersama kalian.
Tapi, bisakah tawa kebersamaan kita lebih banyak dibanding pada yang lain?
Aku selalu mencemaskan hal ini saat datangnya rasa rindu.
Bagaimana bisa aku sendiri disini, sedangkan kalian adalah yang selalu ada untuk ku?
Rasa sakit ini pun datang kembali.
Ini berlebihan bila dipandang dengan kacamata manusia.
Persahabatan tak perlu sampai seperti ini. Ada yang mengatakan begitu.
Seakan tergores benda tajam, hatiku terluka saat menyadari bahwa, 'mungkinkah dikehidupan kami selanjutnya, kami masih dapat tertawa bersama?'
Maka....
Disisa waktu ku, aku ingin selalu ada untuk kalian.
Disisa waktu ku, aku ingin menjadi yang diandalkan.
Disisa waktu yg masih ku miliki, kalian tak kurang sedikitpun cinta dari ku.
Disisa waktu ini, aku berusaha menjadi sahabat terbaik untuk kalian.
Dan disisa waktu yang kita jalani, kita selalu bahagia.

Comments
Post a Comment